Minggu, 03 Mei 2009

IMPLIKASI PENGELOLAAN KELAS BILINGUAL TERHADAP PENINGKATAN MUTU SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) NEGERI 6 SURABAYA

IMPLIKASI PENGELOLAAN KELAS BILINGUAL TERHADAP PENINGKATAN MUTU SISWA
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
NEGERI 6 SURABAYA



SKRIPSI


OLEH:

A P I P
NIM: D03304076


















INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
2008
ABSTRAK


Skripsi oleh Apip, 2008, Judul: Implikasi Pengelolaan Kelas Bilingual Terhadap Peningkatan Mutu Siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 6 Surabaya. Pembimbing: Dra. Husniyatus Salamah Zainiyati, M. Ag
Pengelolaan kelas bilingual merupakan proses pembelajaran, materi pelajaran, dan penilainnya menggunakan bahasa Inggris khususnya pada Pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (fisika, kimia, biologi).
Pengelolaan kelas bilingual ini, merupakan langkah yang cukup progresip untuk mempersiapkan para siswa mampu bersaing, berperan aktif, efektif dan cerdas dalam menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi.
Agar pelaksanaan Pembelajaran kelas bilingual dapat diimplementasikan dengan tingkat pencapaian yang tinggi dalam kompetensi bidang studi maupun kompetensi dalam bahasa Inggris, maka diperlukan adanya keseimbangan dari berbagai komponen seperti: kurikulum, tenaga kependidikan khususnya guru MIPA yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris, kesiapan siswa, kesiapan orang tua, fasilitas mendukung pembelajaran, lingkungan sekolah yang mendukung dan dukungan komite sekolah.
Penelitian dalam Skripsi ini dilakukan untuk mengkaji implikasi pengelolaan kelas bilingual terhadap peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya, bagaimana peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya, dan bagaimana Implikasi pengelolaan kelas bilingual terhadap peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya.
Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Dan pengumpulan datanya dilakukan dengan metode angket, observasi, interview dan dokumentasi. Kemudian data dianalisa menggunakan rumus statistik, yaitu: rumus prosesntase dan rumus product moment serta ditambah dengan rumus regresi.
Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa pengelolaan kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya dalam proses pelaksanaannya dapat berjalan efektif dan efisien atau tergolong baik, karena hasil perhitungan prosentase menunjukkan antara 56%-100%. Dan peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya setelah masuk kelas bilingual mengalami peningkatan dalam pencapaian hasil prestasi yang cukup, hal ini berdasarkan pada hasil perhitungan prosentase pada peritem pertanyaan nilai yang diperoleh berada antara 56%-75% dengan kreteria tergolong cukup.
Sedangkan dalam implikasinya pengelolaan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya mempunyai implikasi (dampak/pengaruh) yang positif terhadap peningkatan mutu siswa dalam katagori tinggi atau kuat. Hal ini, berdasarkan dari hasil penghitungan product moment, hasil yang di peroleh adalah 0,71 dan pada tabel interpretasi barada pada nilai r = 0,70 – 0,90 menunjukkan bahwa antara variabel X dan Y terdapat implikasi yang kuat atau tinggi. Begitu juga dengan hasil perhitungan rumus regresi menunjukkan bahwa pengelolaan kelas bilingual mempunyai hubungan yang positif dengan peningkatan mutu siswa yaitu dengan nilai 0,711.
MOTTO




أٌدْعُ إِلىَ سَبِيْلِ رَبُّكَ بِالْحِكْمَةَ وَالْمَوْعِظَةُ الْحَسَنَةِ

Seruhlah (manusia) kepada jalan Tuhan-MU dengan hikmah dan pelajaran yang baik (Q.S. Al-Nahl: 125)


وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَنِ إِلَّامَاسَعَى

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah di usahakannya(QS. An-Najam: 39)


PERSEMBAHAN


Dengan mengucapkan syukur Al-Hamdulillah, dapat kupersembahkan karya Skripsi sederhana ini buat:
Orang yang ku sayangi dan sangat saya hormati
ayahanda Saidi Batli dan Ibunda Nadimah Yudi yang telah membesarkan dengan kasih sayang dan mendidiknya dengan penuh kesabaran serta selalu mendo’akan setiap saat agar anaknya menjadi anak yang sholeh, pintar, taat, patuh, berguna baginya, keluarganya, agama, bangsa dan Negara

Saudara-saudaraku yang tersayang kakakku Irsyadul Anam, Kak Najik, Kak Nasir, Kak Busyairi, Kak Niam, Mbak Nuzula dan Adikku Muhlas

Seluruh kosma KI khususnya M. Mujib, Sutrisno, Choirul Huda, Choiril Amin, Syaiful Huda, Arif Hidayat, Mahrus Cholili, Abd. Jabbar, Fuad, Asroful Anam, Shofi, Uswatun Khasanah, Ida Ilmiawati, Yuyun Sriwahyuni, Luluk Khamidah, Rananta ZS., Uswatun Hasanah A. Mufidah, Ana Puspita
serta teman-teman yang selalu bersamaku dan selalu bermain ke-Rental Mitrah Nourt Java Computer (MNJ Com)

Kebersamaan dan kesetian kalian semua mengiringi perjalanan studiku, gelak tawa dan canda serta sedikit perselisihan memberi nuasan yang sejuk dan mutiara berharga selalu mewarnai setiap langkahku……..

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Ilahi Robbi yang telah melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini. Sholawa serta salam semoga tetap abadi pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta segenap dan seluruh pengikutnya.
Penulis menyadari bahwa didalam penyusunan dan penulisan Skripsi ini, banyak menemui kesulitan dan hambatan, namun berkat bantuan, bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak, maka semuanya dapat penulis menyelesaikan dengan baik. Untuk itu sudah sepatutnya apabila dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. H. Nur Hamim, M. Ag., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya beserta Staf-stafnya.
2. Drs.H Masyhudi Ahmad, M. Pd.I, selaku ketua Jurusan Kependidikan Islam dan serta sebagai Dosen Wali Penulis IAIN Sunan Ampel Surabaya.
3. Dra. Husniyatus Salamah Z, M. Ag., selaku Dosen Pembimbing yang penuh kesabaran membimbing dan mengarahkan serta memberi motivasi agar tidak putus asa dan tetap semangat.
4. Drs. Idris, M. Pd. M. Si, selaku kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 6 Surabaya dan beserta staf-stafnya yang telah membantu dalam menyelesaikan Skripsi ini.
5. Bapak dan Ibu Dosen yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan
6. Ayahanda dan Ibundaku yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materiil demi terselesaikannya Skripsi ini.
7. Terspesial buat calon istriku entah dimana ia berada, semoga Allah mengaruniakan istri yang sholihah bagiku, Amin!!!
8. Buat teman-teman KI-04, yang telah mendukung dan membantu penulis dalam menyelesaikan Skripsi ini, yang tak mungkin penulis sebutkan satu persatu.
Tiada kata yang dapat penulis berikan sebagai balas budi, selain untaian do’a semuga amal beliau dibalas dan diterima serta diampuni segala dosa-dosanya disisi Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan kemampuan yang penulis miliki mengingat penulis adalah hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan luput, untuk itu penulis mengharapkan saran, kritikan dan masukan yang bersifat konstuktif demi sempurnanya penyusunan Skripsi ini.
Dan akhirnya penulis berharap semoga Skripsi ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Surabaya, 29 Juni 2008

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI iii
ABSTRAK iv
MOTTO v
PERSEMBAHAN vi
KATA PENGANTAR vii
DAFTAR ISI ix
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 7
C. Tujuan Penelitian 7
D. Kegunaan Penelitian 8
E. Definisi Operasional 8
F. Metode Penelitian 10
G. Hipotesis Penelitian 18
H. Sistematika Pembahasan 19
BAB II LANDASAN TEORI 20
A. Tinjauan Tentang Pengelolaan Kelas Bilingual 20
1. Pengertian Pengelolaan Kelas Bilingual 20
2. Konsep Pengelolaan Kelas Bilingual 24
3. Tujuan Pengelolaan Kelas Bilingual 28
4. Landasan Pengelolaan Kelas Bilingual 31
5. Komponen Pokok Yang Perlu Dipersiapkan Dalam Pelaksanaan Kelas Bilingual 33
6. Fokus Pengembangan Kelas Bilingual 50
7. Implementasi Pembelajaran Kelas Bilingual 52
8. Monitoring dan Evaluasi 55
B. Tinjauan Tentang Peningkatan Mutu Siswa 56
1. Pengertian Peningkatan Mutu Siswa 56
2. Indikator Peningkatan Mutu Siswa 57
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi 60
4. Evaluasi Peningkatan Mutu Siswa 64
C. Implikasi Pengelolaan Kelas Bilingual Terhadap Peningkatan Mutu Siswa 66
1. Implikasi Positif 66
2. Implikasi Negatif 67
BAB III LAORAN HASIL PENELITIAN 72
A. Gambaran Umum Obyek Penelitian 72
B. Penyajian Data 84
C. Analisa Data 90
BAB IV PENUTUP 129
A. Kesimpulan 129
B. Saran-Saran 130
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia, berbagai permasalahan hanya dapat di pecahkan dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi atau ketersediaan sumber daya manusia yang kompetitif dan berkualitas. Maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatan kaulitas sumber daya manusia secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien.
Salah satu alternatif yang dianggap mampu menyediakan sumber daya manusia yang kompetitif dan berkualitas adalah pengelolaan kelas bilingual. Pengelolaan adalah penyelenggaraan atau suatu tindakan merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, pengawasan dan penilaian agar dapat berjalan dengan efektif dan efisien, sehingga tujuan yang diharapkan tercapai. Sedangkan kelas bilingual adalah penyampaian materi pembelajaran, proses belajar mengajar, dan penilaiannya disampaikan dalam bahasa inggris. Khususnya pada bidang studi Matematikan dan IlmuPengetahuan Alam (MIPA).
Program kelas bilingual mulai diterapkan pada tahun ajaran 2004-2005 pada sekolah koalisi Nasional. Sekolah yang diprospekkan memiliki jaringan Regional atau Internasional yang pada umumnya memiliki keunggulan-keunggulan dibandingkan dengan sekolah-sekolah lainnya dalam hal input (kurikulum, tenaga kependidikan, fasilitas, kesiapan siswa, kesiapan orang tua, dana, dukungan komite), proses (proses belajar mengajar yang efektif dan efisien) dan output (prestasi akademik).
Dalam hal ini dijelaskan Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departeman Pendidikan Nasional pada tahun 2004/2005 untuk melakukan implementasi terbatas pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris (Mathematics and Science ing English) pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di 31 sekolah Koalisi di 30 Propinsi di Indonesia.
Ada dua faktor utama yang mendorong pentingnya kelas bilingual yaitu pertama, sumber daya manusia yang tangguh sangat diperlukan karena mengingat sumber daya manusia merupakan daya saing yang paling menentukan terutama sumber daya manusia yang menguasai teknologi dan ilmu-ilmu yang mendasarinya yaitu matematika dan ilmu pengetahuan alam. Kedua, mengingat sebagian besar ilmu seperti matematika, fisika, biologi, kimia dan teknologi disebarluaskan dalam bahasa inggris.
Tujuan pengelolaan kelas bilingual adalah untuk menghasilkan kualitas mutu lulusan yang memiliki kompetensi yang tinggi dalam matematika dan ilmu pengetahuan alam sesuai dengan perkembangan ilmu-ilmu, memiliki kemahiran berbahasa inggris sesuai dengan perkembangan internasional. Maka dengan adanya kelas bilingual ini diharapkan kualitas mutu pendidikan tambah meningkat dan relevansi terhadap pendidikan ditingkat nasional dan internasional.
Secara rasionalnya ada beberapa alasan bahwa pengelolaan kelas bilingual dapat meningkatkan mutu siswa tarutama pada kompetensi bahasa Inggris dan Ilmu Pengetahuan Alam sebagai barikut:
1. Pada proses pembelajarannya lebih ditekankan pada materi pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris dengan waktu yang lebih maksimal daripada materi pelajaran yang lain.
2. Dengan kemampuan dan kemahiran bahasa Inggris siswa yang baik, siswa dapat mengakses dan memperoleh data serta menerima dengan mudah pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam baik melalui internet, buku-buku dan materi yang disampaikan oleh guru.
3. Adanya keseimbangan dari berbagai komponen yang mendukung pembelajaran kelas bilingual seperti: kurikulum, tenaga kependidikan khususnya guru MIPA yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris, kesiapan siswa, fasilitas mendukung pembelajaran, lingkungan sekolah yang mendukung dan dukungan komite sekolah.
Sedangkan mutu dalam rangka umum mengandung makna derajat (tingkat), keunggulan suatu produk (siswa) dari hasil kerja/usaha yang telah di laluinya baik berupa barang maupun jasa. Menurut Edward Sallis Mutu merupakan suatu hal yang membedakan antara yang baik dengan yang tidak baik, lebih lanjut dia mengatakan bahwa mutu merupakan hal yang membedakan antara kesuksesan dan kegagalan.
Dalam kontek hasil pendidikan Mutu mangacu pada prestasi yang di capai oleh sekolah (siswa) pada setiap kurun waktu tertentu. Prestasi yang dicapai dapat berupa hasil tes kemampuan akademis (misalnya ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas).
Namun untuk menghasilkan atau meningkatkan kualias mutu di perlukan proses pendidikan yang bermutu juga seperti: bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi, sarana prasarana dan sumber daya manusia lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Sebagaimana yang di ungkapkan oleh Nana Syaodah Sukmadinata dalam bukunya “Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah” Untuk menghasilkan mutu pendidikan yang berkualitas perlu adanya proses pendidikan yang bermutu dan didukunng oleh faktor-faktor bermutu juga, seperti pemimpin/pengelola yang profesional, sumber daya yang berkualitas, tata usaha yang bermutu, sarana prasana yang memadai, dan lingkungan yang mendukung serta faktor-faktor lainnya. .
Berdasarkan dari keterangan diatas dapat di ambil keterangan bahwa pengeolaan kelas bilingual akan dapat bermplikasi (berdampak/berpengaruh) positif dan negatif terhadap peningkatan mutu siswa khususnya pada materi pelajaran bahasa inggris dan MIPA. Bagaimana sekolah yang bersangkutan mengelola kelas bilingual sehingga pelaksanaan proses belajar mengajar kelas bilingual dapat berjalan dengan efektif dan efisien atau berjalan dengan optimal. Maka dengan adanya pengelolaan atau pengaturan kelas bilingual yang optimal dimungkinkan dapat berimplikasi posiif terhadap peningkatan kualitas mutu siswa dan begitu juga sebaliknya.
Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 6 Surabaya merupakan lembaga pendidikan Negeri yang berada di bawah nauangan Pendidikan Nasional (Diknas) yang terletak di Jalan Jawa No. 24 Kecamatan Gubeng Surabaya Timur. Pada tahun 2004/2005 SMP Negeri 6 Surabaya telah mengimplementasikan kelas bilingual (pelajaran MIPA dalam pengantar bahasa inggris) sampai sekarang ini, yang terdiri dari 6 kelas yaitu kelas 7/C, kelas 7/I, kelas 8/A, kelas 8/B, kelas 9/A & 9/B. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum Nasional dan Intenasional, untuk masuk kelas bilingual siswa harus mengikuti tes seleksi terlebih dahulu yang telah di lakukan oleh sekolah yang bekerja sama dengan pihak Dinas Pendidikan.
SMP Negeri 6 Surabaya dari tahun ke tahun banyak mengalami perkembangan dan kemajuan sesuai dengan setandar perkembangan pendidikan nasional hal ini dibuktikan dengan predikat dan prestasi yang di telah diperoleh siswa-siswa SMP Negeri 6 Surabaya, baik prestasi akademik maupun prestasi non akademik. Prestasi akademik di buktikan dari hasil nilai ujian akhir nasional dan ujian akhir sekolah yang setiap tahun selalu meningkat seperti NUAN (nilai ujian akhir nasional) pada tahun 2005 nilai rata-rata yang diperoleh 8,77 dan tahun 2007 nilai rata-rata yang diperoleh 9,09 dan NUS (nilai ujian sekolah) pada tahun 2005 nilai rata-rata yang diperoleh 7,90 dan tahun 2007 nilai rata-rata yang diperoleh 8,88. Sedangkan prestasi non akademik juga demikian siswa-siswa SMP Negeri 6 Surabaya banyak menjuarai lomba-lomba baik yang ditingkat kabupaten/kota dan propinsi salah satunya seperti SMALA Science and English Chompionship pada 2006 juara1 di tingkat kabupaten/kota.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah prestasi-prestasi yang diperoleh oleh siswa-siswa SMP Negeri 6 Surabaya yang setiap tahun selalu meningkat ada kaitan atau hubungannya dengan pengelolaan kelas bilingual?
Berdasarkan dari latar belakang diatas penulis termotivasi untuk melakukan penelitian, untuk mengetahui apakah dengan pengelolaan kelas bilingual berdampak terhadap peningkatan mutu siswa SMP Negeri 6 Surabaya?. Oleh karena itu, penulis ingin mengadakan penelitian dan dalam hal ini menjadikan penulis mengangkat judul “Implikasi Pengelolaan Kelas Bilingual Terhadap Peningkatan Mutu Siswa Di SMP Negeri 6 Surabaya”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penulisan dan peneltian Srkispi ini sebagai berikut:
1. Bagaimana pengelolaan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya?
2. Bagaimana peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya?
3. Bagaimana implikasi pengelolaan kelas bilingual terhadap peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian dalam Skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui tentang pengelolaan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya.
2. Untuk mengetahui tentang mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya.
3. Untuk mengetahui bagaimana implikasi pengelolaan kelas bilingual terhadap peningkatan kualitas mutu siswa di SMP 6 Negeri Surabaya.

D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari hasil penelitian dalam Skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Akademisi : Skripsi ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan, informasi untuk memperkaya khasanah pengetahuan dan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah dan kebijakan yang lebih baik dan tepat di masa mendatang dalam pengelolaan lembaga pendidikan yang bermutu. Khususnya mengenai pengelolaan kelas bilingual itu sendiri.
2. Bagi Insan Akademis : Skripsi ini sebagai sumbangsih pemikiran, penambah wawasan keilmuan dan memperkaya pengalaman serta melatih diri dalam menerapkan ilmu yang telah diperoleh dari perkuliahan dan sebagai salah satu syarat dalam memenuhi gelar Sarjana.
3. Sedangkan bagi peneliti lain skripsi ini mungkin dapat dijadikan sebagai dasar pedoman dalam melakukan penelitian yang lebih mendalam.

E. Definisi Operasional
Untuk menghindari kemungkinan adanya salah tafsir atau salah persepsi dalam memahami judul skripsi ini, maka perlu penulis memberikan pengertian yang terdapat dalam judul Skripsi tersebut sebagai berikut :
1. Implikasi Pengelolaan Kelas Bilingual
Implikasi dalam “Kamus Ilmiah Populer” implikasi diartikan sebagai dampak/pengaruh yang kuat dan menimbulkan akibat. Sedangkan dalam. “Kamus Besar Bahasa Indonesia” diartikan sebagai keterkaitan dan keadaan terkait. Pengelolaan Menurut Suharsimi Arikunto dalam bukunya “Pengelolaan Kelas dan Siswa” pengelolaan adalah penyelenggara, pengaturan. Sedangkan kelas bilingual adalah kelas yang dalam proses pembelajarannya menggunakan dua system bahasa yaitu bahasa ingris atau pengantar bahasa inggris.
Jadi implikasi pengelolaan kelas bilingual adalah dampak/pengaruh penyelenggaran/pengaturan kelas bilingual yang dalam pembelajarannya menggunakan dua sistem bahasa. Yaitu bahasa Indonesia dan bahasa inggris.
2. Peningkatan Mutu Siswa
Peningkatan adalah suatu keadaan lebih baik, lebih tinggi, lebih meningkat. Mutu adalah prestasi yang dicapai pada setiap kurun waktu tertentu dapat berupa hasil tes kemampuan akademis (misalnyya ulangan harian/tugas, ulangan tengan semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas). Dalam “Kamus Umum Bahasa Indonesia” mutu diartikan ukuran, kwalitas, baik buruknya, taraf, derajat (kepandaian, keberhasilan, dan kecerdasan dsb) . Sedangkan siswa adalah semua siswa kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya.
Jadi peningkatan mutu siswa adalah kenaikan/meningkatnya hasil prestasi/keberhasilan yang di capai oleh siswa kelas bilingual dari tes akademis (ulangan harian/tugas, UTS, UAS, dan Ulangan kenaikan siswa) di SMP Negeri 6 Surabaya
Dengan demikian dapat di ambil pengertian bahwa Implikasi Pengelolaan Kelas Bilingual Terhadap Peningkatan Mutu siswa SMP Negeri 6 Surabaya adalah dampak/pengaruh penyelenggaran/pengaturan kelas bilingual yang dalam pembelajarannya menggunakan dua sistem bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) terhadap kenaikan/meningkatnya hasil prestasi/keberhasilan yang di capai oleh siswa kelas bilingual dari tes akademis (ulangan harian/tugas, UTS, UAS, dan Ulangan kenaikan siswa) di SMP Negeri 6 Surabaya.

F. Metode Penelitian
1. Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian dalam Skripsi ini adalah penelitian kuantitatif. bentuk penelitian kuantitatif penulis gunakan karena untuk mengatahui bagaimana implikasi pengelolaan kelas bilingual terhadap peningkatan mutu di SMP Negeri 6 Surabaya.
Dalam penelitian Skripsi ini ada dua variabel yang nantinya penulis cari antara keduanya. Adapun variabel tersebut adalah sebagai berikut:
a. Variabel bebas (X) dalam hal ini adalah pengelolaan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya
b. Variabel terikat (Y) dalam hal ini adalah peningkatan mutu siswa kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya. Mutu siswa ini adalah merupakan hasil nilai raport yang diperoleh siswa kelas VIII A dan VIII B bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya.
2. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan diteliti. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi atau wakil dari populasi. Adapun yang dimaksud populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII A & VIII B bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya yang terdiri 70 siswa.
Menurut Suharsimi Arikunto mengingat keterbatasannya waktu, biaya, dan tenaga serta faktor yang lainnya. Untuk sekedar ancer-ancer jika jumlah subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semuanya. Namun jika lebih besar maka dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25%.
Berhubung jumlah siswa kelas VIII A dan VIII B bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya kurang dari 100. Maka dalam penelitian ini dinamakan penelitian populasi. Maksudnya yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah seluruh jumlah siswa kelas VIII A dan Kelas VIII bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya yang berjumlah 70 siswa.
3. Jenis dan Sumber Data
a. Jenis Data
a) Data Kualitatif
Adalah data yang tidak bisa diukur secara langsung atau data yang tidak berbentuk angka Adapun yang dimaksud dengan data kualitatif dalam skripsi ini seperti: gambaran umum sekolah, seperti; letak geografis, sejarah berdirinya, visi, misi, tujuan, sasaran-prasarana, perangkat dan media pembelajaran, pelaksanaan kelas bilingual, dan lain sebagainya.
b) Data kuantitatif
Adalah data yang berhubungan langsung dengan angka-angka atau bilangan. Adapun yang dimaksud dengan data kuantitatif dalam skripsi ini adalah jumlah siswa, jumlah guru, dan hasil prestasi yang diperoleh siswa di SMP Negeri 6 Surabaya.

b. Sumber Data
a) Data Primer
Adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber data yang didapat dari angket yang diajukan peneliti kepada responden dan hasil wawancara. Adapun yang menjadi sumber data dalam skripsi ini adalah seluruh jumlah responden dan tim pelaksana program kelas bilingual yang meliputi: kepala sekolah, guru, pegawai di SMP Negeri 6 Surabaya.
b) Data Skunder
Adalah data-data yang diperoleh dan digunakan untuk mendukung data, informasi data primer. Adapun data sekunder tersebut adalah dokumen, buku-buku, majalah-majalah, media cetak, Koran serta catatan-catatan yang berkaitan dengan judul skripsi ini.
4. Metode Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini secara valid, penulis menggunakan metode pengempulan data sebagai berikut:
a. Metode Angket
Angket adalah daftar isian yang berisi pertanyaan-pertanyaan untuk menyelidiki suatu gejala yang timbul, sebagaimana pengertian dari pada angket itu sendiri sebagai berikut :
“Angket adalah suatu alat pengumpulan data dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan tertulis atau daftar pertanyaan tertulis, yang harus dijawab dengan tertulis juga. Menurut Suharsimi Arikunto: Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan angket atau quesioner sebagai metode yang dipilih untuk mengumpulkan data. Quesioner atau angket memang mempunyai banyak kebaikan sebagai instrumen pengumpulan data.19
Jadi dengan metode angket ini penulis dalam pengumpulan data, mengumpulkan sejumlah daftar pertanyaan tertulis kepada responden tentang pengelolaan kelas bilingual dan peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya untuk mendapatkan jawaban yang bersifat pribadi, kemudian dari sejumlah jawaban tersebut penulis kemukakan dan selanjutnya penulis sajikan dalam penyajian data.
b. Metode Interview
Metode interview adalah suatu metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan tujuan penyelidikan. Penyelidikan pada umumnya dua orang atau lebih hadir secara fisik dalam proses tanya jawab itu sendiri dan masing-masing pihak dapat menggunakan saluran-saluran komunikasi secara wajar dan lancar.17
Dari pengertian tersebut diatas dapat difahami bahwa interview adalah suatu metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab langsung antara pihak peneliti dengan pihak yang bersangkutan, yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan kepada tujuan penelitian.
Sedangkan metode ini penulis gunakan untuk mendapatkan informasi tentang pengelolaan kelas bilingual dan mutu siswa yang belum penulis peroleh dari angket dengan menginterview tim pelaksana program kelas bilingual seperti: kepala sekolah, guru-guru, dan pegawai di SMP Negeri 6 Surabaya.
c. Metode Observasi
Metode observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan jalan mengadakan penelitian secara langsung terhadap obyek yang diteliti, sebagaimana yang dijelaskan oleh Sutrisno Hadi dalam bukunya sebagai berikut:
“Metode observasi ini dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematis terhadap fenomena yang diselidiki. Dalam arti luas observasi tidak hanya terbatas pada pengamatan yang dilakukan dengan mata kepala saja, melainkan juga langsung adalah quistioinnaire dan tes. ”
Sedangkan dalam hal ini penulis tidak hanya mengamati obyek studi tetapi juga mencatat hal-hal yang terdapat pada obyek tersebut. Selain itu metode ini penulis gunakan untuk mendapatkan data tentang situasi dan kondisi secara universial dari obyek penelitian, yakni letak geografis/lokasi sekolah, kondisi sarana, struktur organisasi, kondisi kelas yang ada di SMP Negeri 6 Surabaya.
d. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data dengan melalui dokumen-dokumen penting yang berkaitan dengan judul penelitian.
Adapun metode dukumen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah buku-buku, catatan-catatan, majalah-majalah, surat kabar, internet, Koran, transkip nilai yang berhubungan langsung dengan penelitian dalam skripsi ini yaitu tentang implikasi pengelolaan kelas bilingual terhadap mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya.
5. Teknik Analisa Data
Setelah data-data terkumpul kemudian dianalisa. Berkaitan dengan judul skripsi ini, penulis dalam menganalisa data yang sudah terkumpul menggunakan metode statistik. Metode statistik adalah teknik analisa dengan cara-cara ilmiah yang dipersiapkan untuk penyelidikan angka-angka.
Untuk mengetahui bagaimana pengelolaan kelas bilingual dan peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya, penuliss menggunakan rumus prosentase sebagai berikut:
Sedangkan teknik analisa, untuk mengetahui bagaimana implikasi pengelolaan kelas bilingual terhadap peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya. Penulis dalam hal ini, menggunakan rumus Product Moment.
Rumus Product Moment sebagai berikut:
Keterangan :
rXY : Koefisien korelasi antara variabel bebas dengan variabel terikat
X : Variabel bebas
Y : Variabel terikat
N : Jumlah responden
Setelah dihitung melalui product moment kemudian nilai atau hasil yang diperolehnya di interpretasikan ke nilai “r”. sebagai mana yang terlihat pada tabel berikut dibawah ini:
Tabel
Interpretasi Nilai “r”

Nilai “r” Keterangan
Antara 0,800 – 1,000 Tinggi
Antara 0,600 – 0,800 Cukup
Antara 0,400 – 0,600 Agak rendah
Antara 0,200 – 0,400 Rendah
Antara 0,000 – 0,200 Sangat rendah

6. Hipotesis Penelitian
Sebagai landasan kerja untuk memperoleh suatu kebenaran kegiatan penelitian perlu dirumuskan dalam bentuk hipotesa terlebih dahulu, yang mana fungsi hipotesa adalah untuk mengetahui sementara dari suatu penelitian, atau kesimpulan yang belum final (proto conclution) karena masih harus dibuktikan, setelah terbukti kebenarannya, hipotesa berubah menjadi tesa, sebagaimana definisi dari hipotesa itu sendiri yaitu:
“Suatu dugaan yang mungkin benar atau mungkin juga salah. Dia akan ditolak jika salah atau palsu, dan akan diterima jika fakta-fakta membenarkannya.”14
Dalam hal ini penulis menggunakan dua hipotesa yaitu:
1. Hipotesa kerja (Ha) yang berbunyi sebagai berikut: Ada pengaruh/dampak yang signifikan adanya pengelolaan kelas bilingual terhadap peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya.
2. Hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi sebagai berikut: Tidak ada pengaruh/dampak yang signifikan adanya pengelolaan kelas bilingual terhadap peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya.
G. Sistematikan Pembahasan
Untuk memperoleh gambaran secara singkat tentang pembahasan skripsi ini, penulis mengemukakan sistematika pembahasan sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan yang meliputi: Latar belakang Masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, definisi operasional, metode penelitian, hipotesis penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab II Landasan Teori meliputi: A. Tinjauan tentang pengelolaan kelas bilingual yang terdiri: 1) Pengertian pengelolaan kelas bilingual, 2) Konsep Pengelolaan Kelas Bilingual, 3) Tujuan penyelenggaraan kelas bilingual, 4) Landasan pengelolaan kelas bilingual, 5) Komponen pokok yang perlu di persiap dalam pelaksanaan kelas bilingual, 6) Fokus pengembangan pengelolaan kelas bilingual, 7) Implementasi pembelajara kelas bilingual, 8) Monioring dan evaluasi. B. Tinjauan tentang mutu yang terdiri: 1) Pengertian peningkatan mutu, siswa 2) Indikator peningkaan mutu siswa, 3) Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan mutu siswa, dan 4) Evaluasi peningkatan mutu siswa.. C. Implikasi pengelolaan kelas bilingual terhadap peningkatan mutu siswa..
Bab III Laporan Hasil Penelitian yang meliputi: Gambaran umum obyek penelitian, penyajian data, dan analisa data.
Bab IV Penutup, sebagai bab terakhir bab ini berisi tentang kesimpulan dari skripsi dan saran-saran dari penulis untuk perbaikan-perbaikan yang mungkin dapat dilakukan.



BAB II
LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Tentang Pengelolaan Kelas Bilingual
1. Pengertian Pengelolaan Kelas Bilingual
Pengelolaan kelas bilingual terdiri dari dua kata istilah yaitu “pengelolaan” dan kelas bilingual”. Istilah pengelolaan berasal dari kata “kelola” yang awalan “pe” dan akhiran “an” dalam istilah lain pengelolaan di sebut dengan “manajemen” yang berasal dari bahasa yunani yaitu “managemen” yang berarti pengaturan/pengelolaan. Menurut Suharsimi Arikunto dalam bukunya “Pengelolaan Kelas dan Siswa” pengelolaan adalah penyelenggara, pengaturan. Sedangkan di dalam bukunya “Manajemen Pengajaran” Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa manajemen atau pengelolaan adalah pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan.
Menurut Drs. Winarno Hamiseno pengelolaan adalah substantika dari mengelola, sedangkan mengelola berarti suatu tindakan yang dimulai dari penyusunan, merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, pengawasan dan penilaian untuk menghasilkan sesuatu tujuan.
Menurut Suryosubroto dalam bukunya “Manajemen Pendidikan di Sekolah” mengungkapkan manajemen atau pengelolaan adalah proses pencapaian tujuan yang dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, penerapan, pemantauan, dan penilaian. Dengan rincian dijelaskan sebagai berikut:
1. Perencanaan merupakan kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapai, berapa lama, berapa orang yang diperlukan, dan berapa banyak biaya yang dibutuhkan.
2. Pengorganisasian merupakan kegiatan membagi tugas-tugas kepada siapa orang yang terlibat dalam kerja sama untuk mencapai tujuan. Dan mengandung makna menjaga agar tugas-tugas yang telah dibagi itu dapat dikerjakan dengan optimal.
3. Pengarahan diperlukan agar kegiatan yang dilakukan bersama itu tetaap melalui jalur yang telah ditetapkan dan nantinya tidak terjadi penyimpangan.
4. Pelaksanaan memerlukan proses pemantauan agar suatu kegiatan dapat diketahui seberapa jauh kegiatan telah mencapai tujuannya dan kesulitan apa yang ditemui dalam pelaksanaan itu.
5. Yang terakhir adalah penilaian untuk melihat apakah tujuan yang telah ditetapkan tercapai dan kalau tidak apakah hambatan-hambatannya. Penilaian ini dapat berupa proses kegiatan atau penilaian hasil kegiatan.
Hadari Nawawi mengunggapkan pengelolaan kelas adalah kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan tararah sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat di manfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.
Sedangkan yang dimaksud dengan kelas bilingual adalah pembelajaran yang materi pelajaran, proses belajar mengajar, dan penilaiannya (Matematika dan IPA) disampaikan dalam bahasa Inggris. Dalam arti lain kelas bilingual merupakan pembelajaran Matematika dan ilmu Pengetahuan Alam dalam proses belajar mengajar dan penilaianya menggunakan dua sistem bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Menurut Ijte Chodijah seorang konsultan pendidikan khusus pembelajaran bahasa Inggris mengungkapkan kelas bilingual adalah kelas yang mampu membangun komunitas berbahasa Inggris secara natural di lingkungan kelas maupun sekolah.
Direktorat PLP mengemukakan bahwa ada dua alasan mengapa pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam disampaikan dengan menggunakan bahasa Inggris yaitu: pertama, untuk meningkatkan daya saing (siswa yang unggul) dengan menguasai teknologi dan ilmu-ilmu yang mendasarinya yaitu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Kedua, karena sebagian besar teknologi (komunikasi, manufaktur, konstruksi, transportasi, bio dan energi) dan ilmu MIPA (matematika, fisika, biologi, kimia) disebarluaskan dalam bahasa Inggris.
Maka untuk memperoleh ilmu itu secara mudah dan cepat dari bangsa-bangsa yang lebih maju diperlukan generasi muda yang mampu/mahir berkomunikasi bahasa Inggris. Dengan demikian akan mudah mengakses, memperoleh informasi, ilmu yang baru dari negara-negara yang maju.
Dari beberapa pengertian dan uraian diatas dapat dipahami bahwa pengelolaan kelas bilingual adalah suatu proses pencapaian tujuan pembelajaran kelas bilingual (Matematika dan IPA) yang dimulai dari proses perencanaan, pengoorganisasian, pengarahan, pelaksanaan, monitoring, dan penilaian. Agar proses belajar mengajar MIPA yang menggunakan dua pengantar yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dapat berjalan efektif dan efisien sehingga tujuan dan harapan yang telah di tetapkan tercapai.
Dengan demikian pengelolaan kelas bilingual adalah suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan oleh pelaksana untuk menciptakan dan mengembangkan potensi kelas dengan mengoptimalkan berbagai sumber-sumber (seperti: kurikulum, guru, siswa, sarana-prasarana, perangkat pembelajaran dan lingkungan belajar) agar proses belajar mengajar dalam pengantar bahasa Inggris berjalan dengan optimal sehingga tujuan yang diharapkan tercapai.
2. Konsep Dasar Pengelolaan Kelas Bilingual
Sebelum membahasas konsep dasar pengelolaan kelas bilingual, maka kiranya perlu penulis jelaskan terlebih dahulu kronologis atau latar belakang penyelengaraan program kelas bilingual.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa banyak perubahan di hampir semua aspek kehidupan yang menuntut adanya sistem mutu yang berskala Internasional dan telah memunculkan persaingan yang sangat ketat antar bangsa. H.A.R. Tilaar mengatakan salah tuntutan di dalam perubahan global tersebut adalah harus memiliki pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat bersaing dan bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain.
Tuntutan tersebut telah membawa konsekuensi serta dampak terhadap pemerintah dan dunia pendidikan. Oleh karena itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan, diharapkan dapat mempersiapkan para siswanya siap bersaing, berperan aktif, efektif dan cerdas menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Salah satu alternatif yang dianggap mampu menghadapi tantangan tersebut adalah implementasi program kelas bilingual atau kelas dengan dua pengantar bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris khususnya (pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris). Terobosan ini, dianggap mampu menyadiakan sumber daya manusia yang kompetitif dan berkualitas serta menjadi salah satu cara untuk mendukung terwujudnya Sekolah Berstandar Internasional.
Ada dua alasan mengapa pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam harus di sampaikan dalam bahasa Inggris (kelas bilingual) sebagai berikut:
1. Untuk mengembangkan sumber manusia yang tangguh yang dapat menguasai teknologi dan ilmu-ilmu yang mendasarinya yaitu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam agar mampu berkomunikasi secara global.
2. Karena sebagian besar ilmu MIPA dan teknologi di sebarluaskan dalam bahasa Inggris. Maka untuk memperoleh itu dengan mudah dan cepat diperlukan generasi muda yang dapat berbahasa Inggris. Dengan demikian akan mudah mengakses dan memperoleh informasi/ilmu yang baru dari negara-negara maju.
Dalam hal ini, dijelaskan Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2004/2005 telah melakukan implementasi terbatas pengajaran Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris (Mathematics dan Sciance in Engglish) pada tingkat sekolah Menengah Pertama (SMP) di 31 sekolah kualisi di 30 propinsi di Indonesia. Hal tersebut merupakan salah satu upaya peningkatan kemampuan dan kemahiran berbahasa Inggris bagi siswa, dan peningkatan profesionalisme guru, yang pada akhirnya secara pararel akan mampu meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan di tingkat SMP.
Pada dasarnya, konsep pengelolaan atau penyelenggaraan kelas bilingual (pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam pengantar bahasa Inggris) menggunakan pendekatan sistem. Yaitu yang terdiri dari komponen-komponen baku yang tersusun, satu sama lainnya salin berkaitan dan bekerja sama satu sama untuk mencapai tujuan. Komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kontek, keadaan eksternalitas sekolah yang berpengaruh terhadap pengelolaan atau penyelenggaraan kelas bilingual (pembelajan MIPA dalam bahasa Inggris) pada lembaga pendidikan. Keadaan eksternalitas yang dimaksud tersebut adalah dapat meliputi: Kemajuan ilmu dan teknologi, nilai dan harapan masyarakat, dukungan pemerintah, tuntutan globalisasi, tuntutan otonomi, tuntutan pengembangan diri.
2. Input, adalah segala hal yang diiperlukan untuk berlangsungnya proses pembelajaran kelas bilingual (pembelajaran MIPA dengan pengantar bahasa Inggris). Adapun input yang dimaksud adalah dapat meliputi: Harapan sekolah (visi, misi, tujuan), kurikulum, ketenagaan, peserta didik, sarana dan prasarana, pembiayaan, regulasi sekolah, setruktur organisasi, sistem administrasi dan partisipasi masyarakat.
3. Proses, adalah kejadian berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang diperlukan untuk berlangsung proses disebut input dan sesuatu hasil proses disebut output. Proses yang dimaksud dapat meliputi: Proses belajar mengajar, manajemen dan kepemimpinan.
4. Output, adalah merupakan kinerja sekolah atau prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses pendidikan di sekolah. kinerja ini, dapat diukur dari kualitas, efektifitasnya, produktivitasnya, efesiensinya.
Khusus yang berkaitan dengan kualitas dapat diukur bahwa uotput sekolah dapat dikatakan berkualitas tinggi, jika prestasi belajar peserta didik menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam prestasi akademik (ulangan umum, UAN, lomba karya ilmiah dan lomba-lomba akademik lainnya) dan prestasi non akademik (IMTAQ, kepribadian, keolahragaan, kesenian, ketrampilan, dan sebagainya)
5. Outcome, adalah dampak tamatan setelah kurun waktu agak lama. Dapat meliputi: kesempatan melanjutkan sekolah, kesempatan kerja, pengembangan diri, dan pengembangan sosial budaya masyarakat. Untuk mengetahuinya sekolah harus melakukan studi penelusuran tamatan.
Pendekatan sistem ini, dapat digunakan sebagai pedoman dan pemandu bagi sekolah yang akan mengelola (menyelenggarakan) dan mengmbangkan pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, harus dipahami bahwa sekolah sebagai sistem yang memiliki komponen-komponen yang harus lengkap, diperhatikan, diintegrasikan dan diletakkan sesuai tempatnya untuk menyelenggarakan MIPA dalam bahasa Inggris.
3. Tujuan Pengelolaan Kelas Bilingual
Tujuan pengelolaan kelas bilingual tidak lain adalah untuk menciptakan proses belajar mengajar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam pengantar bahasa Inggris berjalan dengan efektif dan efisien sehingga dapat menghasilkan mutu siswa yang memiliki kompetensi yang tinggi dalam Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan menghasilkan mutu siswa yang memiliki kemahiran dalam berbahasa Inggris sehingga siap bersaing di era globalisasi.
Dalam buku “Sebagai Dasar dan Pelaksanaan Kelas bilingual” bahwa tujuan pengelolaan kelas bilingual sebagai berikut :
1. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang tinggi dalam Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam sesuai dengan perkembangan ilmu-ilmu tersebut
2. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemahiran berbahasa Inggris yang tinggi.
3. Untuk meningkatkan penguasaan Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris sesuai dengan perkembangan Internasional
4. Untuk meningkatkan kemampuan daya saing secara Internasional tentang ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam sebagai ilmu dasar bagi perkembangan teknologi (manufaktur, komunikasi, transportasi, konstruksi, biologi, dan energi)
5. Untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa dalam bahasa Inggris, artinya siswa memiliki kemahiran bahasa Inggris yang baik
6. Menghubungkan Indonesia dalam perkembangan Internasional di bidang Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, informasi dan teknologi.
Tujuan pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan menggunakan bahasa Inggris di kelas bilingual, mengacu pada visi pendidikan nasional yang telah dikemukakan di Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 yaitu mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab dan menghadapi tantangan zaman yang selalu berubah. Secara rinci dijabarkan sebagai berikut:
1. Meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing ditingkat Nasional, Regional, Internasional
2. Meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global
3. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, ketrampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global
Sedangkan tujuan pengelolaan kelas itu sendiri Menurut Drs.. Cece Wijaya adalah agar pembelajaran dapat dilakukan secara maksimal sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai dengan efektif dan efisien. Menurut Sudirman pengelolaan kelas tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan sosial, emosional, intelektual dalam kelas guna meningkatkan kegairahan belajar siswa baik individu maupun kelompok sehingga tujuan pengajaran tercapai secara efektif dan efisien.



4. Landasan Hukum Pengelolaan Kelas Bilingual
Ada beberapa landasan hukum pengelolaan kelas bilingual sebagai berikut:
1. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2004/2005 telah memprogramkan untuk melakukan implementasi terbatas pengajaran Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris (Mathematics dan Sciance in Engglish) pada tingkat sekolah Menengah Pertama (SMP) di 31 sekolah kualisi di 30 propinsi di Indonesia.
2. UU. No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 50 dan PP. Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional Pasal 61 yang berbunyi:
“Pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab pemerintah dan/atau pemerintah daerah untuk menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional”.

3. Permendiknas No. 23 tahun 2006 tantang Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah pasal 1 yang berbunyi:
“Standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik bahwa standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar lulusan menimal kelompok mata pelajaran dan standar kompetensi lulusan mata pelajaran.

4. Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah yang berbunyi:
“Standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah yang selanjutnya disebut standar isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu”.
5. Permendiknas No. 24 tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dan peraturan menteri pendidikan nasional nomor 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah bahwa
“Satuan pendidikan dasar dan menengah pengembangan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan pada UU no. 20 Tahun 2003, PP No. 19 Tahun 2006, Permendiknas No. 22 dan 24 Tahun 2006.

Sedangkan dalam al-Qur’an surat An-Nahl Ayat 125 dan Ali Imran ayat 104 dijelaskan sebagai berikut:
             •     •       (النحل: 125)

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. Al-Nahl: 125)

  •             (ال عمران: 104)


Artinya: Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyuru kepada kebijikan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Ali-Imron: 104)

Dalam hadits
عَلِّمُوْا أَوْلَدَكُمْ فَإِنَّهُمْ مَخْلُوْقُوْنَ لِزَمَنٍ غَيْرِ مِنْكُمْ
Artinya: Didiklah anak-anakmu, sebab mereka di lahirkan untuk hidup dalam suatu zaman yang berbeda dengan zamanmu (hadist)

5. Komponen Pokok Yang Perlu di Persiapkan Dalam Pelaksanaan Kelas Bilingual
Pengelolaan kelas bilingual ini, merupakan langkah yang cukup progresip untuk mempersiapkan para siswa mampu bersaing, berperan aktif, efektif dan cerdas dalam menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk itu penerapannya menjadi penting untuk dicermati, mengingat bahasa Inggris bagi guru maupun siswa merupakan bahasa asing, bukan bahasa kedua. Hal ini, berbeda dengan negara-negara persemakmuran seperti; Australia, India, Malaysia dan Singapura, dimana bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa kedua. Sehingga siswa terbiasa menggunakannya.
Selanjutnya bagaimana agar proses (input) pelaksanaan kelas bilingual (pembelajaran MIPA dalam pengantar bahasa Inggris) ini dapat berjalan dengan efektif dan efisien? Maka sekolah yang akan dan telah melaksanakan kelas bilingual ini, tentunya harus bekerja keras untuk mempersiapkan dan meningkatkan keberhasilan pelaksanaannya agar tujuan pembelajaran dapat dicapai sesuai dengan yang diharapkan.
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Yasin ayat 19 dan Surat An-Najam ayat 39 sebagai berikut:
  •        

ِArtinya: Utusan-utusan itu berkata: "Kemalan]gan kamu adalah karena kamu sendiri. apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas". (Q.S. Yasin: 19)

     

Artinya : Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (Q.S. An-Najm: 39)

Dari dua ayat al-Qur’an diatas dijelaskan bahwa agar proses pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan menggunakan bahasa Inggris dapat berhasil, maka bagi sekolah yang menyelenggarakan kelas bilingual dianjurkan untuk berusaha mempersiapkan dengan baik apa yang menjadi terwujudnya tujuan. Karena usaha atau upaya merupakan kunci keberhasilan dan tidaknya dalam mencapai suatu tujuan.
Ada beberapa komponen pokok yang harus dipersiapkan dalam pelaksanaan kelas bilingual. Komponen pokok tersebut sebagai berikut:
a. Kurikulum
Kurikulum merupakan komponen dalam proses pembelajaran dan sebagai alat untuk mencapai tujuan, maka oleh karena itu, kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan kondisi lingkungan atau kebutuhan yang diharapkan.
Menurut Tilaar standar kurikulum atau standar isi ditentukan dengan mata pelajaran untuk masing-masing jenjang pendiddikan serta pengaturan mengenai alokasi waktu setiap minggu, bulan, tahun. Selain itu kurikulum disusun berdasarkan berbagai sudut pandang seperti kurikulum berorientasi kepada mata pelajaran (subject matter ccurriculum), kurikulum berorientasi kepada kebutuhan anak 9cchild centered curriculum), kurikulum berdasarkan kepada kebutuhan kehidupan nyata (life-skill curriculum).
Dalam buku sebagai dasar dan pedoman pelaksanaan kelas bilingual di kemukakan bahwa kurikulum kelas bilingual (pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris), kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional yaitu kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang dikembangkan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Pengembangan silabus dan pengembangan sistem penilaiannya juga mengaju pada kurikulum tersebut. Namun demikian, meskipun kurikulum 2004 (KBK) yang digunakan sebagai acuannya, sekolah dapat mengembangkan dengan menambah, memperluas, dan memperdalam kurikulum yang berlaku sesuai dengan perkembangan Internasional dalam bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan tetap memperhatikan nilai-nilai dan budaya Indonesia yang ada.
Sebagaimana juga yang dikemukakan oleh Widowati dan Titik Sudarti kurikulum yang di gunakan kelas bilingual adalah kurikulum KBK atau KTSP, yang dalam proses pembelajan MIPA dikembangkan dalam bahasa Inggris.
Hal ini, mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dikemukakan bahwa :
“Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan”. “Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari standar isi sebagaimana diatur Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dan standar kompetensi lulusan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah”






b. Kesiapan Guru
Guru sebagai komponen utama proses belajar mengajar mempunyai peranan yang penting dan sangat menentukan terhadap berhasil tidak tujuan pendidikan. Sebagaimana yang kemukakan oleh Aan Comariah dalam bukunya “Visionary Leadership” Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Keberadaan guru menjadi aspek penting bagi kebarhasilan sekolah, terutama guru yang melaksanakan fungsi mengajarnya dengan penuh makna (purposeful teaching).
Untuk mengajarkan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan menggunakan bahasa Inggris, tentu merupakan tugas yang cukup berat. Oleh karena itu, agar penerapan kelas bilingual ini dapat berjalan dengan efektif, maka aspek kesiapan guru sangat diperlukan, disamping menguasai materi, guru harus belajar mengucapkan dan memahami bahasa Inggris.
Maka sekolah yang akan melaksanakan penerapan kelas bilingual ini, perlu melakukan seleksi terlebih dahulu terhadap guru-guru yang akan mengajar di kelas bilingual untuk mengetahui tingkat kesiapan mereka mengajar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam pengantar bahasa Inggris. Sehingga guru tersebut mampu dan sanggup menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pengajar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan menggunakan bahasa Inggris.
Oleh karena itu, sekolah bersama komite sekolah bertanggung jawab terhadap penyiapan guru dengan bekerja sama dengan Direktorat PLP untuk menyediakan instrumen yang dapat digunakan untuk menyeleksi guru MIPA dalam berbahasa Inggris.
Beberapa kriteria minimal yang seharusnya dimiliki oleh guru kelas bilingual diantaranya sebagai berikut:
1. Berlatar belakang pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan alam (biologi, fisika, kimia), minimal Diploma III (D3) atau Sarjana (S1)
2. Usia guru tidak lebih dari 45 tahun
3. Memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang cukup bagus yang diindikasikan oleh nilai TOEFL minimal 450.
4. Memahami kurikulum 2004 beserta strategi dan metode pengajaran yang mendukung keterlaksanaan kurikulum 2004 di sekolah. Misalnya pembelajaran Kontektual Teaching dan Learning.
5. Memahami konsep dasar pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris.
6. Memiliki komitmen yang tinggi untuk melaksanakan program ini.
Menurut Drs. Idris, M. Pd, M. Si, bahwa beberapa kreteria yang seharusnya dimiliki oleh guru sebagai berikut:
1. Kualifikasi guru 100% minimal S1 dan D4
2. Terpenuhi semua tingkat kewenangan dan kesesuaian guru
3. Guru memiliki sertifikasi kompetensi/profesi guru
4. Semua guru mampu menggunakan ICT dalam PBM
5. Sebagian besar guru memiliki kemampuan Bahasa Inggris dalam TOEFL minimal 500.
Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa standar pendidik dan tenaga pendidikan sebagai berikut:
1. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
2. Kualifikasi akademik pendidik harus dibuktikan dengan ijazah/sertifikat keahlian yang relevan dan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku yaitu memiliki keahlian khusus yang diakui dan diangkat menjadi pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan.
3. Pendidik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah mempunyai kompetensi yang meliputi: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial.
4. Pendidik pada SMP kualifikasi akademik pendidikan minimum diplomat empat (D-IV) atau sarjana (S1)
5. Latar belakang pendidikan sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan.
Menurut Hadari Nawawi kompetensi yang harus dimiliki guru, agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan sebagai berikut:
1. Menguasai bahan bidang studi sesuai dengan kurikulum dan ditambah dengan penguasaan bahan penunjang bidang studi.
2. Mempu mengelola program belajar mengajar seperti: rencana program pembelajaran, promes, prota, silabus.
3. Mampu mengelola kelas seperti: memiliki kemampuan menata ruangan pengajaran dan mampu menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif.
4. Mampu mengenal, memilih, dan menggunakan sumber media pembelajaran.
5. Mampunyai kemampuan berintraksi dengan siswa
6. Memiliki kemampuan dalam melakukan penilaian
Menurut Hadiyanto dalam bukunya “Mencari Sosok Desentralisasi Manajemen Pendidikan di Indonesia” mengemukakan seharusnya guru mampu memainkan peran guru ideal yaitu: berkualifikasi pendidikan yang memadai sesuai dengan jenjang pendidikan, mempunyai visi dan misi sebagai guru, mampu merubah sikap atau mempengaruhi dan memotivasi peserta didik, sesuai dengan bidangnya, menggunakan metode yang bervariasi, mempu menguasai kelas, menguasai materi, berwawasan luas, mampu berkomunikasi dengan baik, human relation, sehat jasmani dan rohani, bermoral/berbudi luhur, bertanggung jawab, disiplin, berwibawa, dan sebagainya.
Namun perlu disadari bahwa kualitas guru yang bagus tidak serta merta akan membuat proses pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris berjalan dengan efektif, karena di luar faktor guru banyak faktor yang juga harus diperhatikan. Seperti; murid, sarana-prasarana yang tersedia dan juga lingkungan sekolah mendukung terwujudnya proses belajar mengajar yang baik. Selain itu juga partisipasi masyarakat yang mendorong dalam penyelenggaraan pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris.
c. Kesiapan Siswa
Sejak awal para siswa telah mengetahui akan adanya kelas bilingual di sekolah. Maka bagi siswa yang berminat atau yang mau masuk kelas bilingual terlebih dahulu mereka mempersiapkan diri secara mandiri. Dalam artian siswa yang mau masuk kelas bilingual harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik dan memiliki pemahaman Matematika dan Ilmu Pengetahuan alam dalam bahasa Inggris di atas rata-rata.
Karena untuk masuk kelas bilingual siswa harus mengikuti tes seleksi (bahasa Inggris dan matematika) terlebih dahulu yang diadakan oleh pihak pelaksana yang bekerja sama dengan Direktorat PLP, untuk mengetahui kemampuan dan kesiapan siswa terhadap kedua bidang tersebut. Adapun tes seleksi menurut Direktorat PLP dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Sosialisasi
Sekolah yang bersangkutan memberitahukan semua siswa kelas I dan orang tua/wali murid kelas I mengenai pelaksanaan pembelajaran Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam pengantar bahasa Inggris dengan surat edaran kepada semua orang tua murid.
2. Pernyataan ijin orang tua
Sekolah minta pernyataan tertulis dari orang tua siswa yang menyatakan mengijinkan anaknya untuk mengikuti pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris apabila yang bersangkutan lolos seleksi.
3. Tes seleksi
Semua siswa kelas I yang diijinkan oleh orang tua siswa untuk mengikuti pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris mengikuti tes bahasa Inggris dan tes matematika. Pelaksanaan tes seleksi disupervisi oleh petugas dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Setiap ruang diawasi oleh 1 (satu) orang pengawas dengan peserta 20 siswa.
4. Koreksi
Koreksi pekerjaan peserta dilakukan oleh masing-masing pengawas dengan di supervisi oleh petugas dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
5. Penghitungan skor akhir (SA). Pengawas menghitung skor SA yang dicapai oleh masing-masing siswa dengan rumus:
(2a+b) : 3 = SA dengan,
a = skor bahasa Inggris
b = skor matematika
SA = skor akhir
6. Membuat daftar urutan siswa berdasarkan SA. Siswa di urutkan dari yang SA-nya tertinggi ke yang terendah
7. Menentukan siswa peserta pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris.
- Pada dasarnya siswa yang berhak mengikuti pembelajaran MIPA adalah mereka yang SA-nya minimal 60.00 (jika menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama)
- Apabila jumlah siswa yang mencapai SA minimal 60.00 lebih dari 60.00, SMP yang bersangkutan dapat menyelenggarakan pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris untuk 2 kelas dengan siswa masing-masing kelas 30-40 siswa.
8. Pengumuman siswa kelas MIPA berbahasa Inggris. Sekolah mengumumkan daftar calon siswa kelas MIPA berbahasa Inggris.
Dari beberapa tahapan-tahapan tes seleksi diatas, sekolah pelaksana dapat menggunakan dan mengembangkan instrumen sendiri dengan tetap berpegang pada nilai-nilai istrumen yang telah ditetapkan Direktorat PLP.
Dan perlu diketahui agar proses pembelajaran kelas bilingual ini dapat efektif dan efisien, bahwa jumlah siswa yang mengikuti program ini sangat tergantung dari jumlah guru yang tersedia (sesuai dengan jumlah guru yang mampu mengajarkan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris) dan juga tergantung pada kemampuan mereka (sesuai dengan hasil tes yang dilakukan terhadap mereka). Sebagai catatan, hendaknya ini tidak dipaksakan pada semua siswa, tetapi diimplementasikan hanya pada siswa yang benar-benar merasa siap dan mampu untuk mengikuti kelas bilingual.
d. Sarana-prasarana
Sarana-prasarana termasuk komponen pokok yang harus dipersiapkan dalam pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris. Karena sarana-prasarana juga menjadi faktor penting efektifnya proses pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris.
Sarana-prasarana yang di persyaratkan atau yang perlu di persiapkan dalam mengimplementasikan kelas bilingual (MIPA dalam pengantar bahasa Inggris), minimal seperti yang dipersyaratkan untuk Sekolah Standar Nasional.
Dalam PP No. 19 Tahun 2005 di jelaskan bahwa standar sarana dan prasarana sebagai berikut:
1. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi parabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
2. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruag unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berekreasi, ruang atau tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Sedangkan menurut Drs. Idris, M. Pd, M. Si, mengungkapkan bahwa sarana-prasarana yang harus dimiliki oleh satuan pendidikan setidaknya sebagai berikut:
1. Umumnya mempunyai luas tanah 15000 m2, luas ruang kelas, >63 m2, jumlah siswa per rombel 24 anak, memiliki fasilitas ICT per kelas pertingkat.
2. Memiliki Lab IPA, IPS, Bahasa. Setiap lab memiliki peralatan dan perlengkapan yang sesuai dengan spec. luas laboratorium minimal sesuai dengn SPM dalam SNP dan ber AC untuk kapasitas maksimum 24 siswa perrombel.
3. Memiliki Lap Komputer dengan ukuran ruangan yang memadai dan ber AC, jumlah komputer sesuai dengan rata-rata jumlah siswa, memiliki sofware yang selalu update, memiliki teknisi komputer dengan jumlah yang memadai untuk membantu pelaksanaan pembelajaran dan perawatan komputer, memiliki penjaminan keselamatan kerja di dalam lab komputer.
4. Memiliki Perpustakaan dengan kelangkapan buku teks dalam bentuk cetak atau digital untuk setiap mata pelajaran, berlangganan (jurnal, majalah, buletin, surat kabar dsb), memiliki komputer untuk perpustakaan, termasuk untuk multimedia 5 buah, ruang baca yang memadai, dan tersedia akses internet.
5. Memiliki Kantin yang dapat menampung pejajan secara memadai, mebeler yang memadai sesuai dengan jumlah pejajan, lingkungan kantin yang sehat dan bersih, menyediakan makanan bergizi, fresh dan terjangkau bagi warga sekolah.
6. Memiliki Sarana olah raga: dengan ukuran yang memadai dan dapat digunakan untuk berbagai jenis kegiatan olah raga, memiliki teknik dengan jumlah yang memadai untuk membantu pelaksanaan kegiatan dan perawatan olah raga, memiliki penjaminan keselamatan yang memadai bagi pengguna sarana dan prasarana olah raga.
7. Memiliki Pusat belajar dan riset guru: dengan ruang dan luas yang memadai serta dilengkapi dengan komputer, jaringan internet untuk guru dengan rasio 1:5, dan dilengkapi media pembelajaran, memiliki buku referensi baik cetak maupun digital bagi guru sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan, memiliki mebeler bagi guru untuk menyimpan referensi (hasil kerjar termasuk untuk kelompok diskusi), memiliki sistem penjaminan keselamatan kerja di dalam ruang administrasi.
8. Penunjang administrasi sekolah: memiliki ruangan dengan ukuran yang memadai, memiliki meubeler yang memadai untuk berbagai jenis administrasi, memiliki server minimum 2 buah, memiliki komputer dengan jumlah yang memadai untuk berbagai kegiatan administrasi, memiliki sistem penjaminan keselamatan kerja di dalam ruang administrasi.
9. Memiliki Unit Kesehatan: dengan ukuran yang memadai dan ber AC, memiliki bahan-bahan dan peralatan dasar untuk P3K, memiliki tenaga profesional, memiliki sistem penjaminan keselamatan kerja di dalam unit kesehatannn
10. Toilet: memiliki ruangan yang terpisah antara laki-laki dan perempuan dengan ukuran yang memadai dan sesuai dengan jumlah warga sekolah, memiliki sistem sanliasi yang baik dan memadai untuk menjamin kebersihan dan kesehatan, memiliki jumlah air yang memadai untuk mendukung sistem sanitasi, memiliki teknis dengan jumlah yang memadai untuk membantu perawatan toilet.
11. Tempat bermain, kreasi dan rekreasi: memilik tempat bermain yang memadai, memiliki tempat berekreasi yang menjamin kreativitas siswa, memilik tempat untuk rekreasi yang memadai, misalnya taman dan pepohonan yang rindang.
12. Tempat ibadah: memiliki tempat ibadah yang memadai dan sesuai dengan agama masing-masing.
Dalam buku sebagai dasar dan pelaksanaan kelas bilingual di jelaskan untuk ruang kelas dan laboratorium MIPA hendaknya diciptakan suasana/lingkungan yang kondusif sedemikian rupa sehingga dapat mendorong dan mendukung siswa untuk belajar dengan menyenangkan, kreatif, aktif, dan efektif. Bahkan kalau memungkinkan ruang kalas dan laboratorium MIPA di rancang sedemikian rupa agar tidak menimbulkan kesan kaku.
Dengan adanya sarana-prasarana diatas, dapat mendorong dan mendukung implementasi kelas bilingual sehingga akan dapat tercipta suasana kelas atau suasana lingkungan sekolah yang kondusif dan pembelajaran kelas bilingual dengan menyenangkan, kreatif, dan afektif. Sehingga proses pembelajaran MIPA dengan menggunakan bahasa Inggris berjalan dengan efektif dan efisiensi hasil.
e. Lingkungan sekolah
Proses belajar mengajar erat sekali kaitannya dengan lingkungan atau suasana dimana proses belajar itu berlangsung. Meskipun prestasi belajar juga di pengaruhi oleh banyak aspek seperti gaya belajar peserta didik, guru, fasilitas yang tersedia pengaruh iklim sekolah masih sangat penting. Hal ini, beralasan karena ketika peserta didik belajar di sekolah, lingkungan sekolah, baik itu lingkungan phisik maupun non-phisik kemungkinan mendukung mereka atau bahkan malah mengganggu mereka.
Lebih lanjut Hadiyanto mengungkapkan bahwa lingkungan sosial di sekolah mempunyai pengaruh yang penting terhadap kepuasan, belajar, dan pertumbuhan/perkembangan pribadi peserta didik. Oleh karena itu, agar pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien, hendaknya diciptakan suasana atau lingkungan yang kondusif sedemikian rupa yang dapat mendorong dan mendukung siswa untuk belajar dengan menyenangkan, kreatif, aktif, dan efektif. Pada prinsipnya, sebaiknya suasana/lingkungan sekolah maupun kelas diupayakan dalam kondisi yang benar-benar kondusif dan menyenangkan bagi siswa untuk mengikuti pembelajaran.
Membiasakan para siswa dan guru Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam berkomunikasi dengan bahasa Inggris setiap hari di sekolah, baik secara oral maupun tertulis. Kebiasaan ini, akan membangun karakter mereka dalam bahasa Inggris, selain itu juga akan menciptakan suasana akademik dan sosial sekolah yang mendukung pengembangan program sehingga tujuan pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris akan dapat berjalan dengan baik.
6. Fokus Pengembangan Pengelolaan Kelas Bilingual
Untuk mencapai tujuan pengelolaan kelas bilingual, sekolah penyelenggara pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris. Perlu mengadakan pengembangan yang dapat mendukung tercapainya tujuan. Maka pengembangan tersebut difokuskan pada aspek-aspek sebagai berikut:
a. Pengembangan Materi MIPA Dalam Bahasa Inggris
Materi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris perlu dikembangkan sesuai dengan perkembangan Internasional. oleh karena itu, sekolah-sekolah yang melaksanakan kelas bilingual harus membangun jaringan Nasional dan Internasional dalam kerangka untuk memutakhirkan materi-materi yang dimaksud. Misalnya; melakukan kerja sama dengan fakultas MIPA di universitas terdekat sebagai salah satu upaya untuk memperoleh informasi/sumber-sumber terkini dalam hal literatur/buku teks MIPA. Hal yang sama dapat juga ditempuh dengan melakukan kerjasama dengan jurusan bahasa Inggris fakultas sastra, dalam upaya peningkatan kemampuan dalam bahasa Inggris.
b. Pengembangan Media Pembelajaran
Mengingat pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris adalah hal baru dan memiliki taraf kesulitan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran reguler yang menggunakan medium bahasa Indonesia, maka diperlukan media-media pembelajaran yang dapat memudahkan peserta didik untuk memahami materi pembelajaran. Media-media pendidikan yang dimaksud dapat menggunakan alat peraga yang lebih aktual, konkret, dan nyata, selain menggunakan multimedia elektronika.
c. Peningkatan Kompetensi Guru MIPA
Guru-guru Matematika dan Ilmu Pengetahuan yang mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar, maka kemampuan berbahasa Inggrisnya perlu ditingkatkan secara intensif dan terus menerus karena mengingat mereka pada umumnya belum disiapkan untuk mengajar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris. Kursus-kursus, tutorial dari guru bahasa Inggris pada sekolah yang sama atau dari lembaga-lembaga lainnya, pembiasaan berbahasa Inggris setiap hari di sekolah, pengadaan buku-buku Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris, dan cara-cara lain yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan guru dapat diupayakan dalam kerangka untuk mendukung peningkatan kemampuan guru dalam berbahasa Inggris.
d. Pembiasaan Berbahasa Inggris
Para siswa dan guru Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris agar dibiasakan berkomunikasi dalam bahasa Inggris setiap hari di sekolah, baik secara oral maupun tertulis. Kebiasaan ini akan membangun karakter mereka dalam berbahasa Inggris, selain juga akan menciptakan suasana akademik dan sosial sekolah yang mendukung pengembangan program sehingga tujuan pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam bahasa Inggris akan dapat berjalan dengan dengan baik.

7. Implementasi Pembelajaran Kelas Bilingual
Pada tahap pelaksanaan ini, yang perlu mendapat perhatian agar pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam Inggris dapat diimplementasikan dengan tingkat pencapaian yang tinggi dalam kompetensi bidang studi maupun kompetensi dalam bahasa Inggris adalah tingkat kesiapan segala input sangat diperlukan untuk berlangsungnya proses belajar mengajar, seperti: kurikulum, tanaga kependidikan khususnya guru MIPA yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris, kesiapan siswa, kesiapan orang tua, fasilitas pendukung proses pembelajaran, lingkungan sekolah yang mendukung dan dukungan komite sekolah.
Ada dua model pembelajaran yang dianggap mendukung pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris, agar tingkat pencapaian kompetensi dalam bidang studi maupun kompetensi dalam bahasa Inggris dapat dicapai. Dua model pembelajaran tersebut sebagai berikut:
a. Model Pembelajaran Terpisah (Pararel)
Yang dimaksud dengan model pembelajaran terpisah adalah pelajaran tambahan yang dilakukan oleh guru bahasa Inggris. Siswa menerima pelajaran tambahan berupa English for Mathematics and Science yang dilakukan oleh guru bahasa Inggris dan guru MIPA.
Materi pelajaran tambahan ini didasarkan pada kebutuhan dan urutan penyajian tema pelajaran yang ada pada pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris. Idealnya sebelum siswa mempelajari pokok bahasan tertentu, siswa sudah diperkenalkan dengan bahasa (kosa kata, tata bahasa, ekspriesi dan laim-lain) yang akan dipergunakan dalam mempelajari pokok bahasan tersebut. Atau dikenal dengan team-teaching antara guru bahasa Inggris dan guru MIPA. Model ini, biasanya digunakan bagi guru MIPA yang penguasaan bahasa Inggrisnya masih kurang.
b. Model Pembelajaran Terpadu (Integreted)
Model pembelajaran ini adalah siswa difasilitasi secara terpadu dalam pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris. Artinya siswa menerima materi English for Mathematics and Science bersamaan katika mereka menerima pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris. Model ini, biasa digunakan oleh guru MIPA yang sudah mampu penguasaan atau pengetahuan bahasa Inggrisnya tinggi.
Kedua model pembelajaran tersebut dapat dijadikan sebagai acuan bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris. Karena mengingat latar belakang pendidikan guru-guru yang mengajar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris, berasal dari latar belakang pendidikan yang tidak disiapkan untuk mengajarkan Matematika atau IPA dalam bahasa Inggris, maka untuk mengajar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan menggunakan bahasa Inggris, merupakan tugas yang cukup berat khususnya bagi guru yang penguasaan bahasa Inggrisnya masih kurang mengembirakan. Dengan demikian peran serta dan bantuan dari guru-guru bahasa Inggris juga diperlukan.
Maka dengan model tersebut dapat digunakan untuk memudahkan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran MIPA dengan menggunakan bahasa Inggris. Misalnya; menggunakan model pembelajaran pararel, guru MIPA dapat bekerja sama dengan guru bahasa Inggris dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan kolaborator atau dikenal dengan team teaching. Guru bahasa Inggris berfungsi sebagai tuor, pendamping atau sumber untuk membantu guru-guru MIPA dalam mengalami kesulitan dalam mengajar menggunakan bahasa Inggris. Dengan demikian proses pembelajaran akan dapat berjalan dengan efektif dan efisien serta dapat memudahkan siswa dalam menerima materi pelajaran.

8. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pengelolaan pendidikan. Karena mengingat implementasi pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris bukan merupakan hal yang mudah tidak menutup kemungkinan dalam pelaksanaan muncul masalah, kendala, hambatan. Maka apabila terjadi seperti itu, akan dapat dilakukan perbaikan untuk selalu mengacu kepada rencana yang telah dirumuskan sebelumnya.
Dan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi akan dapat lihat dan ukur perkembangan dan kemajuan pendidikan sekaligus mengetahui apakah mutu yang ditetapkan dapat dicapai atau tidak.

B. Tinjauan Tentang Peningkatan Mutu Siswa
1. Pengertian Peningkatan Mutu Siswa
Menurut Abuddin Nata peningkatan adalah sebagai proses menaikkan ketaraf yang lebih baik. Sedangkan mutu siswa dalam rangka umum mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (siswa) dari hasil kerja/usaha yang telah di laluinya baik berupa barang maupun jasa.
Menurut Edward Sallis mutu merupakan suatu hal yang membedakan antara yang baik dengan yang tidak baik, lebih lanjut dia mengatakan bahwa mutu merupakan hal yang membedakan antara kesuksesan dan kegagalan. Suatu pendidikan dapat di sebut bermutu, jika proses belajar mengajar berlangsung secara efektif, dan peserta didik mengalami pembelajaran yang bermakna dan menghasilkan produk atau lulusan yang bermutu pula yang di tunjang oleh sumber daya manusia, dana, sarana prasarana pula.
Dalam kontek pendidikan, mutu mengacu pada “proses” dan “hasil”. Dalam proses pendidikan mutu mengarah pada proses pembelajaran yang efektif yang didukung oleh kemampuan guru, sarana-prasarana, suasana lingkungan sekolah yang kondusif. Sedangkan dalam hasil pendidikan mutu mangacu pada prestasi yang di capai oleh sekolah (siswa) pada setiap kurun waktu tertentu. Prestasi yang dicapai dapat berupa hasil tes kemampuan akademis (misalnya; ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester dan ulangan kenaikan kelas). Dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya: komputer, beragam jenis teknik, jasa.
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil keterangan bahwa peningkatan mutu siswa merupakan kenaikan hasil atau prestasi yang dicapai oleh siswa pada setiap kurun waktu tertentu baik kemampuan akademis (misalnya; ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester dan ulangan kenaikan kelas), maupun kemampuan non akademis.

2. Indikator Peningkatan Mutu Siswa
Untuk menyatakan bahwa suatu siswa mengalami peningkatan mutu atau dikatakan berhasil apabila tujuan (standar) yang telah tentukan tersebut dapat dicapai, untuk mengetahui tercapai tidaknya guru perlu mengadakan tes kepada siswa yang berpedoman pada kurikulum dan standar yang telah ditetapkan.
Muh. Uzer Usman mengatakan bahwa indikator adalah sebagai tolak ukur untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar-mengajar dapat dikatakan berhasil/meningkat, berdasarkan ketentuan kurikulum dan standar yang telah ditentukan.
Menurut Mulyasa dalam bukunya “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” standar kompetensi lulusan satuan pendidikan adalah:
“Kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Tujuannya untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Sedangkan kompetensi kelompok mata pelajaran adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat atau semester untuk kelompok mata pelajaran tertentu.

Standar mutu pendidikan tersebut dapat dijadikan sebagai indikator (ukuran) peningkatan mutu siswa. Seberapa jauh kualifikasi kemampuan, penguasaan, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang dicapai oleh siswa pada setiap kurun waktu tertentu pada satu mata pelajaran maupun kelompok mata pelajaran tertentu.
Sebagaimana diungkapkan oleh Aan Comariah bahwa ukuran peningkatan mutu pendidikan siswa dapat dilihat dari hasil akademik dan non akademik yang dicapai oleh siswa. Kompetensi akademik dapat meliputi pengetahuan, sikap, kemampuan dan ketrampilan, yang menujukkan pencapaian yang tinggi dari hasil tes yang didapat dari ulangan harian, ulangan semester, UAS, UAN. Sedangkan prestasi non akademik ukurannya dapat dilihat dari minat dan kesungguhan siswa dalam mengikuti program pembelajaran di sekolah bukan hanya dilihat dari mata pelajaran, tetapi juga merupakan nurturing effect pelajaran yang secara aktual dapat ditinjau dari keikutsertaan siswa dalam ekstrakurikuler.
Dari keterangan diatas dapat diambil sebagai indikator bahwa siswa dapat dikatakan mengalami peningkatan mutu apabila sebagai berikut:
1. Pencapaian kompetensi dalam bidang studi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di kelas yang tinggi.
2. Penguasaan bahasa Inggris jauh lebih tinggi dari penguasaan bahasa Inggris yang dimiliki sebelumnya dan dibandingkan dengan kelas reguler
3. Meningkatnya kamampuan dan penguasaan siswa dalam Matematika dan Ilmu Pengetahuan alam dalam bahasa Inggris
4. Meningkatnya ketrampilan dan kemampuan berkomunikasi siswa dalam berbahasa Inggris.
5. Siswa menunjukkan sikap dan perilaku sosial yang lebih baik
6. Semua itu dapat dilihat dari pencapaian akademik (dari hasil tes baik dari ulangan harian, semester, UAS dan UAN) dan non akademik siswa yang tinggi
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Mutu Siswa
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan mutu siswa dapat dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut:
a. Faktor Eksternal
1) Tantangan Globalisasi
Sejalan dengan dengan kemajuan dan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah menjadikan dunia ini banyak mengalami perubahan diberbagai aspek kehidupan. Setiap individu dalam berkarya tidak hanya dituntut untuk mampu berkiprah dan berkompetensi sebatas lokal dan nasional, akan tetapi juga mampu berkiprah ditingkat Internasional.
Sebagaimana juga yang diungkapkan oleh Nana Syaodah Sukmadinata, pada abad globalisasi ini, manusia dituntut berusaha tahu banyak (knowing much), berbuat banyak (doing much), mencapai keunggulan (beeing exellence), serta berusaha memegang teguh nilai-nilai moral.
Dari kedua uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut adanya sumber daya manusia yang mampu berkompetisi, bukan saja dengan sesama warga dalam suatu daerah, wilayah ataupun negera, melainkan juga dengan warga negara dan bangsa lainnya.
2) Penguasaan Bahasa Internasional
Dengan meningkatnya lembaga hubungan bisnis Internasional dan bertambahnya banyaknya investasi asing masuk ke Indonesia, kecenderungan penguasaan bahasa Internasional tambah meningkat, berbagai informasi kerja menuntut penguasaan berbahasa Inggris sebagai salah satu syaratnya.
Buku-buku dan sumber informasi lain yang masuk ke Indonesia banyak memakai bahasa Inggris. Begitu juga dengan teknologi komputer yang kini menjadi satu-satunya kebutuhan penting, juga terprogram dalam bahasa Inggris. Bahkan komunikasi sehari-hari dikalangan kelas mengengah atas di dalam Negeri pun, istilah-istilah yang digunakan sering berasal dari kosa kata bahasa Inggris.
Dengan demikian penguasaan bahasa Internasional (Inggris) menambah wawasan yang luas dan tak terbatas terhadap peluang-peluang yang ada di lingkup global. Penyesuaian bahasa asing secara aktif, terutama bahasa Inggris perlu dilaksanakan dengan cara mengaplikasikan penggunaan bahasa Inggris kedalam bentuk kajian buku-buku berbahasa Inggris. Sehingga tidak dipungkiri kenyataan bahwa penguasaan bahasa Internasional (Inggris) merupakan salah satu syarat mutlak untuk mampu bersaing di dunia Internasional.
3) Faktor Keluarga
Keluarga adalah merupakan tempat tinggal anak didik, dalam keluarga tersebut peserta didik mengalami pertumbuhan dan perkembangannya. Ada beberapa hal, yang mempengaruhi peningkatan mutu siswa dalam lingkungan keluarga yaitu; tingkat pendidikan orang tua, cara orang tua mendidik/membina, hubungan anggota keluarga, suasana atau situasi keluarga, keadaan ekonomi keluarga.
Semuanya itu, dapat memberi dampak baik ataupun baruk terhadap kegiatan belajar dan peningkatan hasil yang dicapai oleh peserta didik.
4) Faktor Sekolah (faktor Instrumental)
Menurut Umaedi ada bebeberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan siswa di sekolah seperti: Bahan ajar (kurikulum), kemampuan guru, dukungan administrasi, sarana prasarana dan lingkungan sekolah yang mendukung.
Menurut Nana Syaodah Sukmadinata beberapa faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu siswa adalah: pemimpin/pengelola yang profesional, sumber daya yang berkualitas, tata usaha yang bermutu, sarana prasarana yang memadai, dan lingkungan yang mendukung serta faktor-faktor lainnya.
5) Lingkungan Sosial/Masyarakat
Peserta didik merupakan makluk sosial yang cenderung hidup bersama satu sama lainnya. Hidup yang seperti ini, akan melahirkan sebuah interaksi sosial yang saling memberi dan menerima dan merupakan kegiatan yang selalu ada dalam kehidupan manusia. Perkembangan lingkungan sosial peserta didik akan mempengaruhinya terhadap pertumbuhan dan perkembangannya.
Menurut Slameto keberadaan siswa dalam masyarakat dapat dipengaruhi beberapa hal sebagai seperti: kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.
b. Faktor Internal
1) Kesehatan jasmani
Kesehatan jasmani peserta didik dapat mempengaruhi semangat dan intensitas dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah apalagi pusing-pusing kepala. Hal tersebut dapat menurunkan kualitas rana cipta (kognitif), sehigga materi yang dipelajarinya pun kurang. Dan begitu juga sebaliknya kondisi organ tubuh yang sehat akan dapat meningkatkan rana cipta siswa, sehingga mudah menerima materi yang dipelajarinya.
2) Apsek psikologis
Merupakan kecerdasan, bakat, kecakapan nyata atau prestasi yang telah dimiliki peserta didik baik itu bersifat bawaan maupun yang diperoleh dari hasil pengaruh lingkungan dan kepribadian tertentu seperti: sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri.
Menurut Slameto sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong kedalam faktor psikologis yaitu: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematengan dan kelelahan.
Dari semuanya itu akan berpengaruh terhadap peningkatan baik dan buruknya mutu siswa atau keberhasilan yang dicapai siswa.
4. Evaluasi Peningkatan Mutu Siswa
Evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan secara terstruktur untuk mengetahui peningkatan hasil prestasi yang dicapai siswa. Menurut Ngalim Purwanto evaluasi merupakan proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh peningkatan mutu yang telah dicapai oleh siswa.
Tujuannya adalah untuk mengetahui kemajuan, perkembangan dan peningkatan keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu dan sebagai umpan balik dalam rangka memperbaiki cara belajar siswa dan mengajar guru serta program pengajaran yang meliputi tujuan materi, bahan pengajaran, metode dan kegiatan belajar mengajar, alat dan sumber pelajaran, dan prosedur dan serta evaluasi.
Untuk mengukur dan mengetahui peningkatan mutu keberhasilan siswa tersebut dapat dilakukan melalui tes yang dilaksanakan sebagai berikut:
1. Tes formatif, dilakukan pada setiap akhir satuan pelajaran yang dikenal dengan ulangan harian. Evaluasi ini dilakukan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung secara kontinu untuk mengukur tercapai tidaknya TIK, seberapa jauh penguasaan siswa atas bahan pelajaran yang telah dipelajarinya, dengan kreteria keberhasilan sekurang-kurangnya 75% dari tujuan yang direncanakan.
2. Tes subsumatif, dilakukan setelah satuan bahasan selesai diajarkan kepada siswa. Pelaksanaan kegiatan evaluasi ini dapat dilakukan pada perempat semester/pertengahan semester/mid semester. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap dan menetapkan peningkatan prestasi belajar siswa. Hasilnya diperhitungkan untuk menentukan nilai raport.
3. Tes sumatif, penilaian yang dilakukan tiap akhir semester, setelah siswa menyelesaikan program belajar dari suatu bidang studi atau mata pelajaran tertentu selama satu periode waktu tertentu pula. Fungsinya untuk menentukan peningkatan, peringkat (rengking) dan ukuran kualitas siswa dan sekolah.
4. Tes tahap akhir, merupakan kegiatan evaluasi yang dilaksanakan pada kahir tahun ajaran dalam rangka mengakhiri program pendidikan di pada suatu lembaga pendidikan atau yang dikenal dengan UAN.

C. Implikasi Pengelolaan Kelas Bilingual Terhadap Peningkatan Mutu Siswa
Daria urian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengelolaan kelas bilingual (pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris) akan dapat berimplikasi (berdampak) positif atau negatif terhadap peningkatan mutu siswa.
1. Berimplikasi positif
Pengelolaan kelas bilingual akan berdampak positif terhadap peningkatan mutu siswa atau mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan mutu siswa. Apabila pengelolaan kelas bilingual atau proses pembelajaran MIPA dengan menggunakan bahasa Inggris dapat berjalan dengan efektif dan efisien dan itu tidak lepas dari komponen-komponen pokok yang mendukungnya seperti: kemampuan/kesiapan guru, kesiapan peserta didik, sarana dan prasarana yang mendukung, lingkungan sekolah yang kondusif dan lain sebagainya.
Dalam artian pengelolaan kelas bilingual dapat meningkatkan atau menghasilkan siswa yang memiliki kompetensi yang tinggi dalam Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan menghasilkan siswa yang memiliki kemahiran berbahasa Inggris. Sehingga mereka mampu, berperan aktif dan cerdas dalam menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. Berimplikasi negatif
Pengelolaan kelas bilingual dapat berimplikasi (berdampak/ berpengaruh) negatif terhadap peningkatan mutu siswa atau dapat disebut juga pengelolaan kelas bingual tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan mutu siswa apabila pengelolaan kelas bilingual tersebut tidak dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
Dalam artian proses pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris banyak mengalami kesulitan, hambatan dan kendala karena disebabkan beberapa faktor yang kurang mendukung contohnya seperti::kurangnya kemampuan guru kelas bilingual dalam penguasaan materi, kemampuan berbahasa Inggris, menggunakan media dan lain sebagainya.. Sehingga proses pembelajarannya tidak dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Dengan demikian tujuan yang diinginkan atau yang diharapkan tidak tercapai dan tidak dapat meningkatkan atau menghasilkan siswa yang memiliki kompetensi yang tinggi dalam Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan tidak menghasilkan siswa yang memiliki kemahiran berbahasa Inggris.
Untuk lebih jelasnya bahwa pengelolaan kelas bilingual akan berimplikasi negatif dan positif terhadap peningkatan mutu siswa, dapat penulis rincikan pada tabel di bawah ini sebagai berikut:
Tabel 1.1
Pengelolaan kelas bilingual dapat berimplikasi positif dan negatif terhadap peningkat mutu siswa

No Akan Berdampak Positif Apabila Akan Berdampak Negatif Apabila
1 Kurikulum yang digunakan kelas bilingual mendukung proses pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris dalam artian disusun, dikembangkan dan diprogram sesuai kondisi dan kebutuhan yang diharapkan. Kurikulum yang digunakan kelas bilingual kurang mendukung proses pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris dalam artian disusun, dikembangkan dan diprogram dengan baik, namun tidak sesuai kondisi dan kebutuhan yang diharapkan.
2 Kesiapan guru, untuk mengajar MIPA dengan menggunakan bahasa Inggris, seperti:
- Kemampuan untuk memper- siapkan rencana pembelajaran, bahan ajar, media pembelajaran
- Kemampuan atau penguasaan berbahasa Inggris yang tinggi
- Kemampuan memilih dan menggunakan multi media yang mendukung pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris dengan baik.
- Memiliki kemampuan untuk berkolaborasi dalam bentuk team teaching dengan guru bahasa Inggris
- Mampu membangun interaksi dan berkomunikasih berbahasa Inggris dengan siswa yang baik
- Mampu merubah sikap dan memotivasi siswa berbahasa Inggris di kelas sehingga dapat meningkatkan kemampuan dan ketrampilan bahasa Inggris siswa. Kurangnya kesiapan guru untuk mengajar MIPA dengan mengguna- kan bahasa Inggris seperti:
- Kemampuan atau penguasaan berbahasa Inggris yang kurang baik/maksimal.
- Guru tidak mampu mengatasi kesulitan atau mengami kendala/ masalah dalam memberikan materi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan menggunakan bahasa Inggris.
- Guru tidak dapat menciptakan proses pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan
- Kurang memiliki kemampuan untuk dapat berkolaborasi dalam bentuk team teaching dengan guru bahasa Inggris
- Kurang mampu membangun interaksi dan berkomunikasih berbahasa Inggris dengan siswa yang baik

3 Kesiapan siswa seperti:
- Memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik
- Memiliki pemahaman Matematika dan IPA dalam bahasa Inggris diatas rata-rata.
- Siswa muda mencerna dan menerima keterangan dari guru Kurangnya kesiapan siswa yaitu kemampuan berbahasa Inggris yang kurang baik
- Siswa sulit memahami bahasa Inggris yang digunakan guru sehingga materi yang disampaikan guru kurang/tidak mudah dicerna/diterima siswa
4 - Kelengkapan sarana-prasarana yang mendukung proses pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris
- Kondisi sarana dan prasarana yang ada mendukungg dan 75% baik - Kurangnya kelengkapan sarana-prasarana yang mendukung proses pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris.
5 - Lingkungan sekolah yang kondusif, mendukung dan mendorong proses pembelajaran MIPA dengan menggunakan bahasa Inggris. Sehingga siswa dapat belajar dengan menyenangkan, kreatif, aktif, dan efektif. - Lingkungan sekolah yang kurang mendukung dan mendorong proses pembelajaran MIPA dengan menggunakan bahasa Inggris. Sehingga pelaksanaan pembelajaran tidak dapat berjalan dengan efektif dan efisien
6 - Peran serta dari pihak-pihak yang bersangkutan seperti: Direktorat PLP, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, komite sekolah, kepala sekolah yang mendukung tercapainya pembelajaran yang efektif dan efisien - Kurangnya perhatian dari pihak-pihak yang bersangkutan seperti: Direktorat PLP, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, komite sekolah, kepala sekolah yang mendukung efisien.tercapainya pembelajaran yang efektif dan

Dan yang terakhir adalah melakukan evaluasi dari program yang telah dilakukan. Yang tujuannya untuk mengetahui apakah proses belajar mengajar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris ini, sudah berjalan dengan efektif dan efisien. Dan sejauh mana peningkatan kualitas mutu siswa, kemajuan, perkembangan dan peningkatan keberhasilan siswa setelah mengalami atau mengikuti kegiatan belajar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris selama jangka waktu tertentu.


BAB III
HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Obyek Penelitian
1. Sejarah Singkat Perkembangan SMP Negeri 6 Surabaya
SMP Negeri 6 Surabaya merupakan lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan pendidikan Nasional (Diknas) yang berdiri pada tahun 1951 dengan AKTA pendirian No. 3549 / BII tanggal 2 Agustus 1951.
Pada tahun 2000 SMP Negeri 6 Surabaya telah ditunjuk menjadi sekolah piloting IPA terpadu dan kemudian dilanjutkan dengan sekolah piloting KBK pada tahun 2002 SMP Negeri 6 Surabaya telah mempersiapkan SDM yang cukup mateng, dengan mengenal model-model dan strategi pembelajaran yang diharapkan KBK seperti: CTL, Jigsaw, Cooperatif dan sebagainya. Dan mengirim 11 orang guru pada tiap mata pelaajaran (Agama, PKN, Bhs. Indonesia, MTK, IPA, Bhs. Inggris, IPS, Kesenian, Olahraga, Komputer, Ketrampilan untuk mengikuti workshop KBK guna menyusun silabus dan pembuatan desain pembelajaran di Jogyakarta selama 1 minggu.
Pada tanggal 16 Juni 2003 SMP Negeri 6 Surabaya telah ditetapkan menjadi sekolah Koalisi nasional dan satu-satunya di jawa timur diantara 31 propinsi di Indonesia sesuai dengan Surat keputusan Mendiknas RI no. 287/C/Kep/PM/2003 tanggal 16 Juni 2003, SMP Negeri 6 Surabaya ditetapkan sebagai wujud kesepakatan SEAMEO (Menteri Pendidikan se Asia Tenggara) dan selanjutnya sesuai dengan Keputusan Direktorat Dikdasmen no 3111a/C.C.3/Kep/PP.
Salah satu syarat dari pada sekolah koalisi salah satunya adalah mengimplementasikan program MIPA berbahasa Inggris (bilingual) sesuai dengan tugas sekolah koalisi untuk dapat membangun kerjasama diantara sekolah koalisi di tingkat nasional maupun di internasional.
Setelah berhasil mengimplementasikan program MIPA bilingual pada sekolah koalisi pada tahun 2007 SMP Negeri 6 Surabaya ditetapkan menjadi Rintisisan Sekolah Bertaraf Internasional berdasarkan surat keputusan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah DEPDIKNAS no. 543/C3/Kep/2007.
2. Letak Geografis SMP Negeri 6 Surabaya
Lembaga SMP Negeri 6 Surabaya terlelak di Wilayah Timur Surabaya Kecamatan Gubeng dengan luas tanah 2638 m2. Tepatnya berada di Jalan Jawa No. 24 Surabaya, yang terletak di tengah-tengah kota Surabaya dan dikelilingi banyak bangunan besar seperti: Rumah Sakit Budi Mulyo, Rumah Sakit Umum Dr. Sutomo, Rumah Sakit Graha Tirta, Rumah Sakit Husada Utama, Lembaga Pendidikan SD, SMP, SMA GIKI 2, DAPENA I dan II, SMA Negeri 4, SMP Negeri 29, PDAM, akomodasi dan transportasi dan mudah dijangkau oleh masyarakat umum. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa letak geografis SMP Negeri 6 Surabaya sangat strategis.
3. Visi dan Misi SMP Negeri 6 Surabaya
a. Visi
Unggul dalam prestasi Akademik dan Non Akademik di Era Globalisasi yang berdasarkan iman dan taqwa (IMTAQ)
b. Misi
1) Mewujudkan generasi yang unggul di bidang IMTAQ dan IPTEK
2) Mewujudkan generasi yang terampil dan dapat bersaing di tingkat Internasional
3) Mewujudkan pendidikan dengan lulusan yang cerdas, terampil, beriman dan bertaqwa, dan memiliki keunggulan kompetiif bertaraf Internasional.
4) Mewujudkan pendidikan yang bermutu, efisien, relevan dan bertaraf Internasional.
5) Mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang transparan, akuntabel, efektif, partisipatif dan profesional.
4. Kurikulum SMP Negeri 6 Surabaya
SMP Negeri 6 Surabaya menggunakan atau menerapkan 3 tiga kurikulum yaitu Kurikulum Berbasis Komptensi (KBK) (2004), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (2006/2007) dan Sistem Kurikulum Sekolah Internasional (2007/2008).
Kurikulum KBK dan KTSP di gunakan pada kelas program reguler dan program kelas bilingual. Namun di dalam program kelas bilingual kurikulum tersebut dikembangkan dalam proses pembelajarannya MIPA dalam bahasa Inggris. Atau kurikulum KBK dan KTSP yang dalam pembelajaran MIPA dibahasa Inggriskan, text boxt worksheet disiapkan dari Direktorat PSMP.
Sedangkan kurikulum Sekolah Internasional diterapkan pada program kelas Sekolah Bertaraf Internasional atau yang dikenal dengan Kurikulum SBI. Kurikulum SBI ini di terapkan di SMP Negeri 6 Surabaya mulai 2007/2008, yang dalam pendanaan dan proses pembelajaran diawasi langsung dari Jakarta.
5. Keadaan Guru dan Tenaga Kependidikan SMP Negeri 6 Surabaya
Keadaan guru SMP Negeri 6 Surabaya pada tahun 2007/2008 kalau dilihat dari jumlahnya terdiri dari 75 guru yaitu 59 Guru Tetap/PNS dan 16 GTT/Guru Bantu. Kalau dilihat dari tingkat kualifikasi pendidikan guru SMP Negeri 6 Surabaya S2/S3 berjumlah 8, S1 berjumlah 48, D3/Sarjana Muda berjumlah 11, D2 berjumlah 5 dan SMA/Sederajat berjumlah 3. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di tabel dibawah ini sebagai berikut:
Tabel 1
Kualifikasi Pendidikan, Status, Jenis Kelamin, dan Jumlah
No Tingkat Pendidikan Jumlah dan Status Guru Jumlah
GT/ PNS GTT/Guru Bantu
L P L P
1. S3/S2 3 5 - - 8
2. S1 8 24 13 3 8
3. D-4 - - - - -
4. D3/Sarmud 3 8 - - 11
5. D2 2 3 - - 5
6. D1 - - - - -
7. ≤ SMA/sederajat 1 2 - - 3
Jumlah 17 42 13 3 75
Prosentase > D3 = 75. 68%
GT = 79.73%
Sumber: Dokumentasi SMP Negeri 6 Surabaya, tentan guru, 27 Juni 2007

Tabel 2
Jumlah guru dilihat dari tugas mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikan (keahlian)

No. Guru Jumlah guru dengan latar belakang pendidikan sesuai dengan tugas mengajar Jumlah guru dengan latar belakang pendidikan yang TIDAK sesuai dengan tugas mengajar Jumlah
D1/D2 D3 S1/D4 S2/S3 D1/D2 D3 S1/D4 S2/S3
1. IPA - 2 8 1 - - - - 11
2. Matematika 1 - 7 2 - - - - 10
3. Bahasa Indonesia - 1 6 - - - - - 7
4. Bahasa Inggris 2 1 3 1 - - - - 7
5. Pendidikan Agama 2 2 5 1 - - - - 10
6. IPS - 1 5 1 - - - - 7
7. Penjasorkes - - 3 - - - - - 3
8. Seni Budaya - - 4 - - - - - 4
9. PKn - 1 1 1 - - - - 3
10. TIK/Keterampilan 3 2 1 - - - - 6
11. BK - 1 4 1 - - - - 6
12. Lainnya: .......
Jumlah 8 11 47 8 74
Sumber: Dokumentasi SMP Negeri 6 Surabaya, Tentang Guru, 27 Juni 2007

Tabel 3
Pengembangan kompetensi/profesionalisme guru
No Jenis Pengembangan Kompetensi Jumlah Guru yang telah mengikuti kegiatan pengembangan kompetensi/profesionalisme
Laki-laki Jumlah Perempuan Jumlah
1. Penataran KBK/KTSP 29/ 1 29/1 44/3 44/3
3. Penataran Metode Pembelajaran (termasuk CTL) - - 5 5
4. Penataran PTK 2 2 1 1
5. Penataran Karya Tulis Ilmiah
6. Sertifikasi Profesi/Kompetensi 1 1 1 1
7. Penataran PTBK 1 1 1 1
8. Penataran lainnya: ..............
Sumber: Dokumentasi SMP Negeri 6 Surabaya, tentan guru, 27 Juni 2007

Tabel 4
Tenaga Kependidikan/Tenaga Pendukung
No. Tenaga pendukung Jumlah tenaga pendukung dan kualifikasi pendidikannya Jumlah tenaga pendukung Berdasarkan Status dan Jenis Kelamin Jumlah
≤ SMP SMA D1 D2 D3 S1 PNS Honorer
L P L P
1. Tata Usaha 1 7 - - - 1 6 1 2 - 9
2. Perpustakaan - 2 - - - - - - 1 1 2
3. Laboran lab. IPA - 1 - - - - - - - 1 1
4. Teknisi lab. Komputer - - - - - - - - - - -
5. Laboran lab. Bahasa - 1 - - - - - - - 1 1
6. PTD - - - - - - - - - - -
7. Kantin - - - - - - - - - - -
8. Penjaga Sekolah 1 - - - - - - - 1 - 1
9. Tukang Kebun 1 1 - - - - - - 2 - 2
10. Keamanan 3 - - - - - - - 3 - 3
11. Petugas UKS - 1 - - - - - - - 1 1
Jumlah 6 13 - - - 1 6 1 9 4 20
Sumber: Data Dokumentasi SMP Negeri 6 Surabaya, 27 Juni 2007

6. Keadaan Sarana dan Prasarana
Untuk lebih mudah mengetahui sarana dan prasarana yang ada SMP Negeri 6 Surabaya dapat dilihat pada tabel dibawah ini sebagai berikut:
Tabel 5
Sarana dan Prasarana SMP Negeri 6 Surabaya Tahun 2007/2008

Jenis Ruangan Jumlah (buah) Ukuran Kondisi*)
1 Kepala Sekolah 1 38 m2 Baik
2 Guru 1 116 m2 Baik
3 Tata Usaha 1 54 m2 Baik
4 Tamu 1 8 m2 Baik
5 Ruang belajar (kelas) 18 > 63 m2 Baik
6 Perpustakaan 1 90 m2 Baik
7 Lab. IPA 1 90 m2 Baik
8 Ketrampilan 1 64 m2 Baik
9 Multimedia 1 64 m2 Baik
10 Kesenian 1 64 m2 Baik
11 Lab. Bahasa 1 64 m2 Baik
12 Lab. Komputer 1 72 m2 Baik
13 PTD - - -
14 Serbaguna/aula 1 183 m2 Baik
15 Jenis Ruangan Jumlah (buah) Ukuran Kondisi
16 Gudang 1 12 m2 Baik
17 Dapur / T.Boga 1 64 m2 Baik
19 Reproduksi - - -
20 KM/WC Guru 2 6 m2 Baik
21 KM/WC Siswa 21 42 m2 Baik
22 BK 1 47 m2 Baik
23 UKS 1 60 m2 Baik
24 PMR/Pramuka 1 12 m2 Baik
25 OSIS 1 45 m2 Baik
26 Ibadah 1 72 m2 Baik
27 Ganti - - Baik
28 Koperasi 1 15 m2 Baik
29 Hall/lobi - - Baik
30 Kantin 2 12 m2 Baik
31 Rumah Pompa/Menara Air - - Baik
32 Bangsal Kendaraan - - Baik
33 Rumah Penjaga - - Baik
34 Pos Jaga 1 6 m2 Baik
35 Lapangan Olah raga - - Baik
36 Lapangan Upacara 1 815 m2 Baik
Sumber: Dokumentasi SMP Negeri 6 Surabaya, Tentang Sarana dan Prasarana, 27 Juni 2007

Tabel 6
Prabot sarana dan prasarana di SMP Negeri 6 Surabaya Tahun 2007/2008

No. Ruang Perabot
Meja Kursi Almari + rak buku/alat Lainnya
Jml Baik Rsk. Ringan Rsk. Berat Jml Baik Rsk. Ringan Rsk. Berat Jml Baik Rsk. Ringan Rsk. Berat Jml Baik Rsk. Ringan Rsk. Berat
1. Kepala Sekolah 2 2 - - 11 11 - - 1 1 - - - - - -
2. Wakasek - - - - - - - - - - - - - - - -
3. Guru 40 40 - - 70 70 - - 2 2 - - - - - -
4. Tata Usaha 18 18 - - 14 14 - - 7 7 - - - - - -
5. Tamu 1 1 - - 3 3 - - 1 1 - - - - - -
6. Ruang kelas 370 260 70 40 740 44 200 95 36 26 7 3 36 25 4 7
7. Perpustakaan 10 5 3 2 42 25 10 7 17 17 - - - - - -
8. Lab. IPA 32 22 7 3 100 50 30 20 2 2 - - - - - -
9. Ketrampilan 12 12 - - 48 - - - 4 4 - - - - - -
10. Multimedia 23 16 5 2 44 29 10 5 3 3 - - - - - -
11. Lab. bahasa 12 10 - 2 48 30 15 3 2 2 - - - - - -
12. Lab. komputer 27 15 9 3 49 34 10 5 4 4 - - - - - -
13. Serbaguna - - - - - - - - - - - - - - - -
14. Kesenian 12 12 - - 48 48 - - 2 2 - - - - - -
15. BK 6 6 - - 10 10 - - 4 4 - - - - - -
16. UKS 2 2 - - 4 4 - - 4 4 - - - - - -
17. PMR/Pramuka 2 2 - - 6 6 - - 2 2 - - - - - -
18. OSIS 3 3 - - 22 22 - - 1 1 - - - - - -
19. Gudang 5 5 - - - - - - 1 1 - - - - - -
20. Ibadah - - - - - - - - 2 2 - - - - - -
21. Koperasi - - - - - - - - - - - - - - - -
22. Hall/lobi - - - - - - - - - - - - - - - -
23. Kantin - - - - - - - - 2 2 - - - - - -
24. Pos jaga 1 1 - - 2 2 - - - - - - - - - -
25. Reproduksi - - - - - - - - - - - - - - - -
26. Aula - - - - - - - - 4 4 - - - - - -
Sumber: Dokumentasi SMP Negeri 6 Surabaya, Tentang Sarana dan Prasarana, 27 Juni 2007

7. Keadaan Siswa SMP Negeri 6 Surabaya
SMP Negeri 6 Surabaya mempunyai tiga program unggulan yaitu program kelas reguler, program kelas bilingual, dan program SBI.
Pada program kelas reguler terdiri dari kelas 7D, 7E, 7F, 7G, 7H, 8C, 8D, 8E, 8F, 8G, 8H dan 9C, 9D, 9E, 9F, 9G, 9H yang masing-masing kelas terdiri dari 40 siswa. Program kelas bilingual terdiri dari kelas 7C, 7I, 8A, 8B, 9A, dan 9B yang masing-masing kelas terdiri dari 40 siswa kecuali kelas 7I terdapat 36 siswa. Sedangkan kelas SBI terdiiri dari kelas 7A dan 7B yang masing-masing kelas berjumlah 25. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini sebagai berikut:
Tabel 7
Program kelas Unggulan SMP Negeri 6 Surabaya Tahuan 2007/2008

Kelas Reguler Kelas Bilingual Kelas SBI
Kelas Jumlah Kelas Jumlah Kelas Jumlah
7D
7E
7G
7H
8C
8D
8E
8F
8G
8H
9C
9D
9E
9F
9G
9H 40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40 7C
7I
8A
8B
9A
9B 40
36
40
40
40
40 7A
7B 25
25
Total 640 Total 236 Total 50

Untuk masuk Kelas SBI proses seleksi, tes dan penerimaannya murni mengikuti kebijakan Diknas yang telah menunjuk ITS dan Unair sebagai penyeleksinya. Dan untuk masuk kelas bilingual siswa harus mengikuti tes seleksi PSB On Line dan MIPA berbahasa Inggris terlebih dahulu sebagaimana yang telah ditentukan Direktorat PLP dan disesuaikan dengan kebutuhan sekolah dengan kreteria yaitu: Nilai raport paling rendah 7,5 dan harus tidak ada nilai 5 dan standar nilai tes ujian untuk masuk adalah 8
Kalau dilihat dari latar belakangnya siswa SMP Negeri 6 Surabaya berasal dari kalangan menengah keatas, karena latar belakang sosial ekonomi orang tua siswa (pekerjaan) terdiri dari PNS, TNI/POLRI, Swasta, Politisi (anggota DPR), Wiraswasta, Pedagang dan lain sebagainya.
Sedangkan untuk mengetahui data tentang prestasi siswa dapat dilihat pada tabel dibawah ini sebagai berikut:
Tabel 8
Prestasi Akademik: NUAN
No. Tahun Pelajaran Rata-rata NUAN
Bhs. Indonesia Matematika Bahasa Inggris Jumlah Rata-rata
1. 2002/2003 7,17 7,15 7,16 21,48 7,16
2. 2003/2004 7,78 8,30 7,36 23,44 7,81
3. 2004/2005 8,58 8,56 8,37 25,51 8,50
4. 2005/2006 8,28 8,83 9,21 26,32 8,77
5. 2006/2007 8,89 9,00 9,37 27,26 9,09
Sumber: Dokumentasi SMP Negeri 6 Surabaya, NUAN, 27 Juni 2007

Tabel 9
Prestasi Akademik: Nilai Ujian Sekolah (US)
No Mata Pelajaran Rata-rata Nilai US
Tahun 2004/2005 Tahun 2005/2006
1 Pendidikan Agama 7,78 7,83
2 Pendidikan Kewarganegaraan 8,00 8,28
3 Bahasa Indonesia 8,30 8,30
4 Bahasa Inggris 8,50 9,00
5 Matematika 9,02 9,02
6 IPA 7,50 7,62
7 IPS 7,00 7,23
8 Kesenian - -
9 Pendidikan Jasmani - -
10 TIK 7,70 7,89
11 Muatan Lokal :
11.1. Bahasa Daerah 7,75 7,85
12.1. Pilihan 7,50 7,64
Sumber: Dokumentasi SMP Negeri 6 Surabaya, UAS, 27 Juni 2007

Tabel 10
Perolehan Kejuaraan/Prestasi Akademik: Lomba-lomba
No. Nama Lomba Tahun 2005/2006, 2006/2007
Juara ke: Tingkat
Kab/
Kota Pro-pinsi
1 Bola Basket Putra YPPI Cup (2005/2006) Juara 3 V
2 Festifal Band SMP (2005/2006) Juara 1 (teh bast) V
3 Gebyar Band Pelajar (2005/2006) Juara 2 (The bast drum) v
4 Festival Band (2005/2006) Juara 1 v
5. Lomba Kepalang Merahan SLTP/SLTA (2005/2006) Harapan 1 V
6. Lomba Karaoke Soecho Tingkat Remaja (2005/2006) The best V
7. Lomba Band SMPN 29 Surabaya (2005/2006) Juara 1
The Best vokal V
8 Lomba band ” Spirit Of the Futura (2006/2007) Juara 1 V
9 Festival band surabaya –sidoarjo 2006/2007 Drumer terbaik V
10 Lomba Vokal Group (2006/2007) Harapan 2 v
11 Renang Putra(2006/2007) Juara 2 V
12 Lomba Vokal Group (2006/2007) Juara 1 V
13 Lomba Basket 3 on 3 (2006/2007) Juara 3 V
14 PMR JK RPM IV (2006/2007) Terbaik 2 V
15 Lt. III Kwarda Gubeng penggalang putri (2006/2007) Prestasi 3 V
16 Lomba Band Sopthi Martin (2006) Juara 2 V
17 Lomba Dwi Karya (2006/2007) Juara 2 V
18 LT II Putra /Putri Juara 2 V
19 Festival Band Tingkat SMP (2006/2007) Juara 2 V
20 Gebyar Band Pelajar (2006/2007) Juara Umum V
21 The best drum V
The bast bass V
Sumber: Dokumentasi SMP Negeri 6 Surabaya, 27 Juni 2007


Tabel 11
Perolehan Kejuaraan/Prestasi Non Akademik

No. Nama Lomba Tahun 2004/2005,2005/2006,2006/2007
Juara ke: Tingkat
Kab/
Kota Pro-pinsi
1. SMALA Science and Emglish Competition ( bahs Inggris ) Juara 3 v
2. Lomba Baca Puisi SMP (2005 ) Juara Umum v
3. SMALA Science and Emglish Competition (bahs Inggris) Juara 2 v
4. Story Telling Al Falah English Chompionship (2006) Juara 1 v
5. Matematika Games SMP (2007) Harapan v
6. Lomba Conversition Competition with computer SMP (Tahun 2007) Juara 2
Juara 3 v
7. Lomba Puisi SMP (Tahun 2007) Juara 1 v

B. Penyajian Data
Penyajian data merupakan hal yang paling penting untuk menunjukkan valid tidaknya hasil penelitian. Adapun yang dimaksud dalam penyajian data dalam Skripsi ini adalah hasil angket tentang “pengelolaan kelas bilingual dan peningkatan mutu siswa” yang sudah diberikan kepada responden yang terdiri dari 70 siswa (siswa kelas 8A dan 8B bilingual dan masing-masing kelas berjumlah 35 siswa) yang sudah diolah menjadi bentuk skor. Berikut ini data tentang responden dapat dilihat pada tabel dibawah ini sebagai berikut:
Tabel 12
Data Tentang Responden Kelas 8A dan 8B Bilingual SMP Negeri 6 Surabaya

No Nama Siswa Kelas 8/A Bilingual No Nama Siswa Kelas 8/B Bilingual
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35 Wildan Lazuardi Fajar
Priska Saraswati
Rafella Dorcas DM
Devi Santi Maharani
Kavin Lukita Pratama
Vashti S.
Andrini Alifia Imandari
Shinta Riski Julia
Naufal Ardian F
Ryan Destianto
Astried V.
Indira Rizqita I
Aranda Rizki S
Trivansyah P.
M. Misbah A.
Akbar
Fizara N. A.
Bramansya Praditia
Prima Nadia Sarah
Zainuddin
Dini
Tiara Irsyad M.
Fira Soraya
Tito Oktavian S.
Iman
Nisrina Hasna Nabila
Viendya F.
Anas N.
Vanny Valertia
Arvia Diva
Rizka Cantika
Aldi
Fakhruddin Wira
Dearista
Agnesstacia VL. 1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35 Melisa Ayaningtyas
Finka Mutiara Arambana
Kirana Dyah Mahardhika
Estiningtyas K. Safitri
Intan Frintia Laksana
M. Prakosa Gagas S.
Sika Yassinia
Raudia Faridah Humaidy
Inuin Oktoviantini Hadi
Putri Melati Dewi
Resti Perslami
Hilmia Rahmadiani
Selviana Putri Larasati
Shinta Nastiti
Asti Putri Rahma Dini
Nabila Inas Salma
Natasha Ardelia
Zulfa Hudaya
Aulia AA
Badzlina. S.
Soraya Isfandiory I.
Achmad Mazakky
Arga
Farid Nugroho
Pandimas Edor Yansyah
Dananjaya S. N.
Bisyamsi N. Moediarso
Revan Hardhany P.
Satrio Muhammad
I.M. Fendiko H.
Trie Sony K.
Wisnu Muhammad T.
Waya Muthio
M. Mirza. F
Elsya
Jumlah responden 35 + 35 = 70

Angket tersebut terdiri dari 40 pertanyaan. 20 pertanyaan tentang “Pengelolaan Kelas Bilingual” dan 20 pertanyaan tentang “Peningkatan Mutu Siswa”. Dan dari setiap pertanyaan memiliki tiga pilihan jawaban, masing-masing jawaban pertanyaan dalam angket tersebut di sediakan alternatif jawaban pilihan dengan standar penilaian sebagai berikut:
a. Alternatif jawaban a dengan nilai 3
b. Alternatif jawaban b dengan nilai 2
c. Alternatif jawaban c dengan nilai 1
Untuk lebih jelasnya maka penulis sajikan data hasil angket yang telah penulis sebarkan kepada siswa dari masing-masing responden dengan memberikan skor (nilai) berdasarkan kreteria yang telah di tentukan diatas. Adapun tabel sebagai berikut:
TABEL 13
DATA HASIL ANGKET TENTANG PENGELOLAAN KELAS BILINGUAL
DI SMP NEGERI 6 SURABAYA

No SKOR BERDASARKAN ITEM PERTANYAAN Jumlah
Skor X
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 41
2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 3 2 2 2 3 3 46
3 2 2 2 3 2 2 2 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 45
4 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 45
5 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 2 39
6 2 2 2 2 2 3 2 1 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2 3 2 44
7 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 40
8 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 42
9 2 3 2 3 2 3 3 3 2 2 2 2 3 3 2 2 1 2 2 2 46
10 2 2 2 1 1 2 2 1 2 3 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 36
11 2 3 2 1 1 2 2 2 1 3 1 2 2 2 2 1 1 1 2 2 35
12 2 3 2 1 2 1 2 2 1 3 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 37
13 2 2 2 1 1 2 2 1 2 3 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 36
14 3 2 2 1 1 1 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 2 2 2 43
15 2 2 1 1 1 1 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 41
16 1 3 2 2 2 2 2 2 2 3 2 1 2 1 2 3 1 2 3 2 40
17 2 3 2 2 3 3 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 44
18 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 41
19 3 2 1 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 41
20 2 2 2 2 3 2 2 3 2 3 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 41
21 2 2 1 1 1 2 1 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 37
22 2 2 2 2 3 2 2 2 1 3 2 2 3 2 2 1 3 1 2 2 41
23 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 40
24 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 40
25 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 39
26 2 2 1 2 2 2 2 2 1 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 39
27 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 37
28 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 41
29 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 39
30 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 41
31 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 44
32 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 3 2 2 49
33 2 2 2 2 3 3 2 3 1 3 1 2 2 2 3 1 2 1 2 3 42
34 2 2 2 2 2 2 2 2 1 3 2 2 2 2 3 2 2 2 3 2 42
35 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 42
36 2 2 1 2 3 3 2 3 2 3 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 41
37 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 53
38 2 2 1 2 2 2 3 3 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 39
39 3 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 3 3 2 2 2 2 3 3 44
40 2 2 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 3 2 3 3 2 3 2 2 49
41 2 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 3 1 3 2 2 48
42 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3 3 40
43 2 2 2 2 3 2 2 2 2 1 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 42
44 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 44
45 1 2 2 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 40
46 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 43
47 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 2 41
48 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 41
49 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 40
50 2 3 2 2 2 2 3 2 3 3 3 2 2 3 2 1 2 2 2 2 46
51 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 39
52 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 3 2 40
53 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 39
54 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 39
55 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 41
56 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 40
57 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 2 3 51
58 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 2 2 50
59 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 60
60 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 60
61 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 40
62 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 58
63 2 3 1 1 2 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 2 2 47
64 2 2 1 1 2 1 2 2 3 3 2 3 2 1 2 2 2 1 2 2 38
65 2 2 1 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 40
66 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 38
67 2 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 3 45
68 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 2 3 2 3 3 50
69 3 3 3 2 3 2 2 3 3 3 2 3 2 3 2 2 2 2 3 2 50
70 2 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 2 2 3 2 50
Total Responden = 70
Total Skor Pengelolaan Kelas Bilingual = 3002
SkorPengelolaan Kelas Bilingual Rata-rata = 43 3002


TABEL 14
DATA HASIL ANGKET TENTANG PENINGKATAN MUTU SISWA
DI SMP NEGERI 6 SURABAYA

No SKOR BERDASARKAN ITEM PERTANYAAN Jumlah
Skor Y
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
1 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 2 2 3 3 3 53
2 3 3 3 2 2 2 2 1 2 2 3 2 2 3 2 2 3 2 3 3 47
3 3 3 3 3 3 2 2 2 3 2 2 2 3 3 2 3 2 2 3 3 51
4 3 3 3 2 2 2 2 1 2 2 2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 49
5 2 2 2 2 3 2 3 1 2 2 3 2 3 2 2 3 3 3 2 2 46
6 3 3 2 2 2 3 2 1 2 2 3 2 3 3 2 3 3 2 2 3 48
7 2 2 3 2 3 3 3 2 3 2 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 47
8 3 2 2 2 3 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 3 2 2 3 42
9 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 3 1 2 2 2 2 2 47
10 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 42
11 3 2 2 2 3 1 2 1 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 47
12 3 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 3 3 1 2 2 2 3 3 46
13 2 2 2 3 2 2 2 1 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 42
14 3 3 3 2 2 2 3 1 3 2 3 3 3 3 2 2 2 2 3 3 50
15 3 2 3 2 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 48
16 3 2 3 3 1 3 2 2 2 1 1 3 3 3 1 2 2 2 2 3 44
17 3 2 2 2 2 3 3 2 2 2 1 2 2 2 2 3 3 2 2 2 44
18 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 49
19 3 3 3 2 1 2 3 1 2 1 3 2 2 2 1 2 2 3 3 2 43
20 3 3 3 2 2 3 2 3 3 2 1 2 1 3 2 2 2 1 2 2 44
21 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 3 38
22 3 3 3 2 2 3 2 1 2 2 3 2 2 2 1 3 3 2 3 3 47
23 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 46
24 3 3 2 2 2 3 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 46
25 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 40
26 3 2 2 2 3 3 2 1 2 2 2 2 3 3 2 2 3 2 3 3 47
27 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 2 2 3 2 3 3 2 2 3 53
28 3 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 2 3 2 3 3 53
29 3 2 2 2 3 3 2 1 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 3 45
30 3 3 3 2 3 3 2 2 3 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 52
31 3 2 2 2 2 3 2 1 2 1 2 2 3 3 2 2 3 2 2 3 44
32 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 2 2 3 1 1 2 2 2 2 45
33 3 2 3 3 2 2 3 2 3 1 1 3 3 2 2 2 3 3 3 3 49
34 3 3 3 2 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 55
35 3 2 2 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 3 3 2 2 3 49
36 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 48
37 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 60
38 3 2 2 2 2 1 2 2 2 2 3 2 3 3 2 2 3 2 2 3 45
39 3 3 3 2 1 2 2 1 2 2 2 3 2 3 2 3 2 2 3 3 46
40 3 2 3 2 2 3 3 2 2 2 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 49
41 3 3 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 2 3 2 2 2 2 2 2 47
42 3 3 2 2 2 3 2 1 2 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 48
43 3 3 3 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 3 3 3 3 50
44 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 50
45 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 1 1 3 3 1 2 2 2 2 2 41
46 3 3 3 2 3 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 46
47 3 2 2 2 3 3 2 2 2 3 3 2 2 3 2 2 3 2 2 2 47
48 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 3 2 2 2 3 1 1 2 2 2 45
49 3 3 3 2 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 54
50 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 53
51 2 2 2 2 3 3 2 1 2 2 2 2 2 1 1 2 3 3 3 3 43
52 3 2 2 3 2 3 2 2 2 1 1 3 2 1 2 3 3 3 3 3 46
53 3 3 3 3 2 3 2 1 2 2 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3 50
54 2 2 3 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 40
55 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 3 2 43
56 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 40
57 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 2 55
58 3 2 3 2 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 2 2 2 2 2 2 49
59 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 60
60 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 60
61 3 3 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 45
62 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 60
63 3 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 2 2 3 2 2 2 49
64 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 40
65 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 2 2 3 2 2 3 43
66 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 3 2 2 1 2 2 3 2 40
67 3 2 2 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 3 2 50
68 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 55
69 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 2 55
70 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 60
Total Responden = 70
Total Peningkatan Mutu Siswa = 3350
Skor Peningkatan Mutu Siswa Rata-rata = 48 3350


Sedangkan peningkatan mutu siswa adalah hasil yang dicapai dalam nilai rata-rata dalam raport yang diperoleh setiap semester di kelasnya masing-masing. Dengan demikian untuk mengukur prestasi siswa tersebut. Dapat dilihat pada nilai rata-rata yang ada pada raport karena dapat dianggap sebagai nilai yang reprentatif dan mewakili semau aspek dalam yang diperoleh oleh siswa tersebut.


C. Analisa Data
Setelah semua data tersebut di sajikan dan agar terdapat kecocokan di dalam menyimpulkan, maka sebagai langkah berikutnya adalah analisa data.
1. Analisa Data Tentang Pengelolaan Kelas Bilingual
Analisa data ini, digunakan tidak lain adalah untuk mengetahui bagaimana pengelolaan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya. Dalam hal ini, penulis mengalisa hasil angket peritem pertanyaan yang sudah di sebarkan kepada responden atas pendapatnya tentang pengelolaan atau pelaksanaan kelas bilingual dengan menggunakan rumus prosentase sebagai berikut:



Kemudian untuk menafsirkan hasil perhitungan dengan prosentase tersebut, penulis menetapkan standar sebagai berikut:
1. 76%-100% : tergolong baik
2. 56% - 75% : tergolong cukup
3. 40% - 55% : tergolong kurang baik
4. kurang dari 40% : tergolong tidak baik.
Setelah itu penulis mengambil atau memilih frekuensi jawaban alternatif yang ideal sebagai kesimpulannya.
Tabel 15
Penyusunan program kurikulum kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya

No. Alternatif jawaban N F %
1 a. Sangat baik 70 6 8,5
b. Baik 62 88,5
c. Kurang baik 2 2,8
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel tersebut diatas dapat menunjukkan bahwa penyusunan kurikulum kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya, siswa menyatakan sangat baik sebanyak 6 (8,57%), baik 62 (88,57%), dan kurang baik sebanyak 2 (2,85%). Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa penyusunan program kurikulum kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya disusun dengan baik atau tergolong baik, karena berada antara 76%-100%.
Tabel 16
Pelaksanaan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya

No. Alternatif jawaban N F %
2 a. Sangat baik 70 13 18,5
b. Baik 57 81,4
c. Kurang baik 0 0
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel tersebut dapat menujukkan bahwa pelaksanaan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya, siswa menyatakan sangat baik 13 (18,5%), baik 57 (81,4%), sedangkan yang menyatakan kurang baik tida ada. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pelaksanaan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya dapat berjalan dan dilaksanakan dengan baik atau tergolong baik, karena berada antara 76%-100%.

Tabel 17
Penataan ruangan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya
No. Alternatif jawaban N F %
3 a. Sangat baik
70 6 8,5
b. Baik 52 74,2
c. Kurang baik 12 17,1
Jumlah 70 70 100
Dari tabel tersebut dapat menunjukkan bahwa pengelolaan kelas bilingual dalam penataan ruangan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya, siswa menyatakan sangat baik sebanyak 6 ((8,5%), baik 70 (74,2%), dan kurang baik 12 (17,1%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas bilingual dalam mengatur atau menata ruangan kelas bilingual dapat dinyatakan baik, karena berada antara 76%-100%.
Tabel 18
Kelengkapan atau ketersediaan sarana dan prasarana kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
4 a. Sangat cukup/sangat lengkap
70 8 11,4
b. Cukup/lengkap 48 68,5
c. Kurang 14 20
Jumlah 70 70 100
Dari tabel diatas dapat menunjukkan bahwa kelengkapan atau ketersediaan sarana dan prasarana kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya, siswa menyatakan sangat cukup/sangat lengkap 8 (11,4%), cukup lengkap 48 (68,5%), dan kurang lengkap 14 (20%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa SMP Negeri 6 Surabaya mempunyai kelengkapan atau ketersediaan sarana dan prasaranana kelas bilingual yang cukup lengkap atau tergolong cukup, karena berada antara 56% - 75%.
Tabel 19
Kualitas (keadaan) kondisi sarana-prasanara kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
5 a. Sangat baik (76-100)
70 17 24,2
b. Baik (51-75) 46 65,7
c. Kurang baik (25-50) 7 10
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa kualitas (keadaan) kondisi sarana dan prasarana yang ada di SMP Negeri 6 Surabaya, siswa menyatakan sangat baik 17 (24,2%), baik/cukup baik 46 (65,7%), dan kurang baik hanya 7 (10%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kualitas kondisi sarana dan prasarana yang ada di SMP Negeri 6 Surabaya dapat nyatakan cukup baik atau tergolong cukup, karena berada antara 56% - 75%.

Tabel 20
Kelengkapan perangkat pembelajaran kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
6 a. Sangat cukup
70 11 15,7
b. cukup 53 75,7
c. Kurang 6 8,5
Jumlah 70 70 100

Dari tabel diatas dapat menunjukkan bahwa kelengkapan perangkat pembelajaran kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya, siswa menyatakan sangat lengkap sebanyak 11 (11,7%), cukup lengkap 53 (75,7%), dan yang menyatakan kurang lengkat hanya 6 (8,5%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kelengkapan perangkat pembelajaran kelas bilingual yang ada di SMP Negeri 6 Surabaya dinyatakan baik, karena berada antara 76%-100%.



Tabel 21
Latar Belakang kualifikasi pendidikan guru kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
7 a. Sangat baik
70 17 24,2
b. Baik 52 74,2
c. Kurang baik 1 1,4
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa latar belakang kualifikasi pendidikan guru kelas bilingual, siswa menyatakan sangat baik sebanyak 17 (24,2%), yang menyatakan baik 52 (74,2%), sedangkan yang menyatakan kurang baik hanya 1 (1,4%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya mempunyai latar belakang kualifikasi pendidikan yang baik, karena berada antara 76%-100%.
Tabel 22
Kemampuan bahasa Inggris guru matematika kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
8 a. Sangat baik
70 19 27,1
b. Baik 57 81,4
c. Kurang baik 4 5,7
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa Inggris guru Matematika, siswa menyatakan sangat baik sebanyak 19 (27,1%), menyatakan baik sebanyak 57 (81,4%), sedangkan yang menyatakan kurang baik hanya 4 (5,7%). Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa guru Matematika kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya mempunyai kemampuan berbahasa Inggris yang baik, karena berada antara 76%-100%.
Tabel 23
Kemampuan berbahasa Inggris guru fisika kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
9 a. Sangat baik
70 9 12,8
b. Baik 53 75,7
c. Kurang baik 8 11,4
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa Inggris guru Fisika kelas bilingual, siswa menyatakan sangat baik 9 (12,8%), baik 53 (75,7%), dan kurang baik hanya 8 (11,4%). Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa guru fisika kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya mempunyai kemampuan berbahasa Inggris yang baik, karena berada antara 76%-100%.
Tabel 24
Kemampuan berbahasa Inggris guru biologi kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
10 a. Sangat baik
70 40 57,1
b. Baik 26 37,1
c. Kurang baik 4 5,7
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa Inggris guru Biologi kelas bilingual, siswa menyatakan sebanyak 40 (57,1%), menyatakan baik 26 (37,1%), sedangkan yang menyatakan kurang baik hanya 4 (5,7%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru biologi kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya mempunyai kemampuan berbahasa Inggris yang cukup atau tergolong cukup, karena berada antara 56% - 75%
Tabel 25
Kemampuan berbahasa Inggris guru kimia kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
11 a. Sangat baik
70 11 15,7
b. Baik 52 74,2
c. Kurang baik 7 10
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa Inggris guru Kimia kelas bilingual, siswa menyatakan sangat baik sebanyak 11 (15,7%), baik 52 (74,2), dan mengatakan kurang baik berjumlah 7 (10%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru kimia kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya mempunyai kemampuan berbahasa Inggris yang baik atau tergolong baik karena berada diantara 76%-100%.
Tabel 26
Kemampuan guru kelas bilingual dalam menggunakan metode pembelajaran
No. Alternatif jawaban N F %
12 a. Sangat baik
70 6 8,5
b. Baik 62 88,5
c. Kurang baik 2 2,8
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa kemampuan guru kelas bilingual dalam menggunakan metode atau starategi pembelajaran, siswa menyatakan sangat baik sebanyak 6 (8,5%), baik 62 (88,5%), dan sedangkan yang berpendapat kurang baik hanya 2 (2,8%). Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa guru kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya mempunyai kemampuan yang baik dalam menggunakan metode pembelajaran atau tergolong baik karena berada antara 76%-100%.
Tabel 27
Kemampuan guru kelas bilingual dalam menggunakan media pembelajaran
No. Alternatif jawaban N F %
13 a. Sangat baik
70 15 21,4
b. Baik 52 74,2
c. Kurang baik 3 4,2
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa kemampuan guru kelas bilingual dalam menggunakan media pembelajaran, siswa menyatakan sangat baik berjumlah 15 (21,4%), baik 52 (74,2%), dan siswa berpendapat kurang baik hanya berjumlah 3 (4,2%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya mempunyai kemampuan yang baik dalam dalam menggunakan media pembelajaran atau tergolong baik karena berada antara 76%-100%.
Tabel 28
Kemampuan guru dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif

No. Alternative jawaban N F %
14 a. Sangat baik
70 6 8,5
b. Baik 62 88,5
c. Kurang baik 2 2,8
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan guru kelas bilingual dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif, siswa menyatakan sangat baik sebanyak 6 (8,5%), baik 62 (88,5%), dan kurang baik 2 (2,8%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya mempunyai kemampuan yang baik dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif atau tergolong baik karena berada antara 76%-100%.
Tabel 29
Penguasaan materi guru kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
15 a. Sangat menguasai
70 12 17,1
b. Menguasai 57 81,4
c. Kurang menguasai 1 1,4
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas menunjukkan bahwa penguasaan materi guru kelas bilingual, siswa menyatakan sangat menguasai sejumlah 12 (17,1), menguasai 57 (81,4%), dan kurang menguasai 1 (1,4%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya dapat dinyatakan menguasai materi pelajaran yang dijarkan dengan baik, atau tergolong baik karena berada antara nilai 76%-100%.
Tabel 30
Kemampuan guru kelas bilingual dalam mengevaluasi belajar siswa
No. Alternatif jawaban N F %
16 a. Sangat baik
70 10 14,2
b. Baik 56 80
c. Kurang baik 4 5,7
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa kemampuan guru kelas bilingual dalam mengevaluasi belajar, siswa menyatakan sangat baik 10 (14,2%), baik 56 (80%), dan kurang baik 4 (5,7%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya mampunyai kemampuan dalam mengevaluasi proses belajar mengajar dengan baik atau tergolong baik karena berada 76%-100%.
Tabel 31
Kondisi lingkungan sekolah yang mendukung KBM
No. Alternatif jawaban N F %
17 a. Sangat mendukung
70 4 5,7
b. Mendukung 58 82,8
c. Kurang mendukung 8 11,4
Jumlah 70 70 100

Dari hasil diatas dapat menunjukkan bahwa keadaan atau kondisi lingkungan sekolah yang mendukung kegiatan belajar mengajar kelas bilingual, siswa menyatakan sangat mendukung sebanyak 4 (5,7%), mendukung 58 (82,8%), dan kurang mendukung 8 (11,4). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kondisi atau suasana lingkungan SMP Negeri 6 Surabaya mendukung proses pembelajaran kelas bilingual dengan baik, atau tergolong baik karena berada antara 76%-100%.
Tabel 32
Penyeleksian siswa kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
18 a. Sangat selektif
70 14 20
b. Selektif 41 58,5
c. Kurang selektif 15 21,4
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas menunjukkan bahwa penyeleksian siswa kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya, siswa menyatakan sangat selektif sebanyak 14 (20%), selektif 41 (58,5%), dan sedangkan yang menyatakan kurang selektif hanya 15 (21,4%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyeleksian siswa kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya di laksanakan atau dilakukan dengan selektif atau tergolong cukup karena berada 56%-75%.
Tabel 33
Hubungan antara guru dengan siswa kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
19 a. Sangat baik
70 9 12,8
b. Baik 61 87,1
c. Kurang baik 0 0
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa hubungan antara guru dengan siswa kelas bilingual, siswa menyatakan sangat baik sebanyak 9 (12,8%), baik 61 (87,1) dan sedangkan yang menyatakan kurang baik tidak ada. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa interaksi atau hubungan antara guru dengan siswa di SMP Negeri 6 Surabaya mempunyai hubungan (interaksi) yang baik atau tergolong baik, karena berada antara 76%-100%.
Tabel 34
Hubungan sekolah dengan masyarakat

No. Alternatif jawaban N F %
20 a. Sangat baik
70 11 11,7
b. Baik 59 84,2
c. Kurang baik 0 0
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat, siswa menyatakan sangat baik sebanyak 11 (11,7%), baik 59 (84,2%) dan sedangkan yang menyatakan kurang baik tidak ada. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa SMP Negeri Surabaya mempunyai hubungan yang baik dengan masyarakat atau tergolong baik (76%-100%)
Dari beberapa dari hasil angket tersebut dapat rekap dari masing-masing item pertanyaan sebagai berikut:
a. Penyusunan program kurikulum kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya disusun dengan baik atau tergolong baik, karena berada antara 76%-100%.
b. Pelaksanaan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya dilaksanakan dengan baik atau tergolong baik, karena berada antara 76%-100%.
c. Pengelolaan kelas bilingual dalam mengatur atau menata ruangan kelas bilingual dapat dinyatakan baik, karena berada antara 76%-100%.
d. Kelengkapan atau ketersediaan sarana dan prasaranana kelas bilingual cukup lengkap atau tergolong cukup, karena berada antara 56% - 75%.
e. Kualitas kondisi sarana dan prasarana yang ada di SMP Negeri 6 Surabaya cukup baik atau tergolong cukup, karena berada antara 56% - 75%.
f. Kelengkapan perangkat pembelajaran kelas bilingual yang ada di SMP Negeri 6 Surabaya dinyatakan baik, karena berada antara 76%-100%.
g. Latar belakang kualifikasi Guru kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya tergolong baik, karena berada antara 76%-100%.
h. Kemampuan berbahasa Inggris Guru Matematika kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya tergolong baik, karena berada antara 76%-100%.
i. Kemampuan berbahasa Inggris guru fisika kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya tergolong, karena berada antara 76%-100%.
j. Kemampuan berbahasa Inggris Guru biologi kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya tergolong cukup, karena berada antara 56% - 75%.
k. Kemampuan berbahasa Inggris guru kimia kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya tergolong baik karena berada diantara 76%-100%.
l. Kemampuan Guru kelas bilingual Surabaya dalam menggunakan metode pembelajaran tergolong baik karena berada antara 76%-100%.
m. Kemampuan Guru kelas bilingual dalam menggunakan media pembelajaran tergolong baik karena berada antara 76%-100%.
n. Kemampuan guru kelas bilingual dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif tergolong baik karena berada antara 76%-100%.
o. Penguasaan materi pelajaran guru kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya tergolong baik karena berada antara nilai 76%-100%.
p. Kemampuan guru kelas bilingual dalam mengevaluasi proses belajar mengajar tergolong baik karena berada 76%-100%.
q. Kondisi lingkungan SMP Negeri 6 Surabaya mendukung proses pembelajaran kelas bilingual dengan baik atau tergolong baik.
r. Penyeleksian siswa kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya tergolong cukup selektif karena berada 56%-75%.
s. Hubungan antara guru dengan siswa di SMP Negeri 6 Surabaya tergolong baik, karena berada antara 76%-100%.
t. SMP Negeri Surabaya mempunyai hubungan yang baik dengan masyarakat atau tergolong baik (76%-100%)
Berdasarkan keterangan diatas dapat diketahui bahwa kebanyakan dari item pertanyaan tentang pengelolaan kelas bilingual tergolong baik. Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengelolaan atau pelaksanaan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya tergolong baik.
2. Analisa Data Tentang Peningkatan Mutu Siswa
Analisa data ini, digunakan tidak lain adalah untuk mengetahui bagaimana peningkatan mutu siswa kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya. Dalam hal ini, penulis juga mengalisa hasil angket peritem pertanyaan yang sudah di sebarkan kepada responden atas pendapatnya tentang peningkatan mutu siswa dengan menggunakan rumus prosentase dan standar sebagaimana diatas sebagai berikut berikut:
Tabel 35
Merasa senang dan bangga dapat diterima di kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
1 a. ya
70 55 78,5
b. biasa saja 15 21,4
c. tidak 0 0
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa merasa senang dan bangga dapat diterima di kelas bilingual, siswa mengatakan ya sebanyak 55 (78,5%), biasa saja 15 (21,4%), dan mengatakan tidak, tidak ada. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa merasa senang dan bangga setelah diterima atau masuk kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya dan nilai tergolong baik karena berada antara 76%-100%.
Tabel 36
Tambah semangat belajar setelah diterima di kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
2 a. ya
70 34 48,5
b. Kadang-kadang 36 51,4
c. tidak 0 0
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa siswa tambah semangat belajar setelah diterima di kelas bilingual, siswa menyatakan ya 34 (48,5%), kadang-kadang 36 (51,4%), dan yang mengatakan tidak kosong. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa kadang-kadang tambah semangat belajar setelah masuk kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya atau dibiling cukup karena berada antara 56% - 75%.
Tabel 37
Selalu aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar
No. Alternatif jawaban N F %
3 a. ya
70 34 48,5
b. Kadang-kadang 36 51,5
c. tidak 0 0
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa siswa selalu aktif dalam mengikuti kegiata belajar mengajar dikelas bilingual, siswa mengatakan ya sebanyak 34 (48,5%), kadang-kadang aktif 36 (51,5%), sedangkan yang tidak aktif tidak ada. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya keatifannya dalam mengikuti proses belajar mengajar tergolong cukup.
Tabel 38
Sering bertanya apabila tidak mengerti penjelasan dari guru
No. Alternatif jawaban N F %
4 a. ya
70 14 20
b. Kadang-kadang 54 77,1
c. tidak 2 2,8
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas menunjukkan bahwa siswa sering bertanya ketika tidak mengerti penjelasan dari dari guru, siswa mengatakan ya sebanyak 14 (20%), kadang-kadang 54 (77,1%) dan sedangkan yang mengatakan tidak hanya 2 (2,8%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya kadang-kadang bertanya ketika tidak mengerti penjelasan dari guru dan ini tergolong baik.
Tabel 39
Setiap aktivitas dalam KBM selalu dipantau dan nilai oleh guru
No. Alternatif jawaban N F %
5 a. ya
70 35 50
b. Kadang-kadang 31 44,2
c. tidak 4 5,7
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa setiap aktivitas siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar selalu dikontrol dan dinilai oleh guru, siswa menyatakan ya 35 (50%), kadang-kadang 31 (44,2%) dan yang mengatakan tidak hanya 4 (5,7%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan atau aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar kadang-kadang di kontrol dan dinilai oleh guru. Dan nilai ini tergolong cukup.
Tabel 40
Merasa senang dan leluasa dengan penataan ruangan yang ada
No. Alternatif jawaban N F %
6 a. ya
70 38 54,2
b. Kadang-kadang 29 41,4
c. tidak 3 4,2
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bawah siswa merasa senang dan leluasa dengan penataan ruangan yang ada, siswa mengatakan ya sebanyak 38 (54,2%), kadang-kadang 29 (41,4), sedangkan yang mengatakan tidak hanya 3 (4,2%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan penataan ruangan yang di kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya dapat memberikan leluasa dan kesengan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dan nilai ini tergolong cukup.
Tabel 41
Penggunaan metode guru dapat memudahkan siswa memahami materi
No. Alternatif jawaban N F %
7 a. ya
70 30 42,8
b. Kadang-kadang 40 57,1
c. tidak 0 0
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel tersebut dapat menunjukkan bahwa penggunaan metode guru dapat memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran, siswa menyatakan ya sebanyak 30 (42,8%), kadang-kadang 40 (57,1%), dan sedangkan yang mengatakan tidak kosong. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaaan metode guru kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya dapat kadang-kadang dapat memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan. Dan nilai ini tergolong cukup.


Tabel 42
Mengalami kesulitan dalam mengikuti KBM kelas bilingual
No. Alternatif jawaban N F %
8 a. tidak
70 2 2,8
b. Kadang-kadang 58 82,8
c. ya 20 28,5
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa siswa kesulitan dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas bilingual, mengatakan tidak sebanyak 2 (2,8%), kadang-kadang 58 (82,8) dan sedangkan yang mengatakan ya 20 (28,5%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya kadang-kadang mengalami kesulitan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Dan nilai ini tergolong baik.
Tabel 43
Bisa menjawab pertanyaan dari guru dengan baik
No. Alternatif jawaban N F %
9 a. ya
70 14 20
b. Kadang-kadang 56 80
c. tidak 0 0
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa siswa bisa menjawab pertanyaan dari guru dengan baik, siswa mengatakan ya 14 (20%), kadang-kadang 56 (80%), dan sedangkan yang mengatakan tidak kosong. Dengan demikian ketika guru memberikan pertanyaan kepada siswa kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya kadang-kadang siswa bisa menjawabnya dengan baik.
Tabel 44
Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler kelas bilingual yang mendukung
No. Alternatif jawaban N F %
10 a. ya
70 13 18,5
b. kadang-kadang 51 72,8
c. tidak 6 8,5
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bawah kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler kelas bilingual, siswa mengatakan ya sebanyak 13 (18,5%), kadang-kadang 51 (72,8%) dan sedangkan yang mengatakan tidak hanya berjumlah 6 (8,5%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan-kegiatan ekstrakurikulur kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya dapat mendukung peningkatan mutu siswa. Dan nilai ini tergolong baik.
Tabel 45
Dengan kegiatan ekstrakurikuler dapat meningkatkan prestasi keterampilan

No. Alternatif jawaban N F %
11 a. ya
70 42 60
b. kadang-kadang 21 30
c. tidak 7 10
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel tersebut dapa menunjukkan bahwa dengan kagiatan-kegiatan ektrakurikuler kelas bilingual dapat meningkatkan prestasi ketrampilan siswa, siswa menyatakan ya sebanyak 40 (60%), kadang-kadang ya 21 (30%) dan sedangkan yang mengatakan tidak hanya 7 (10%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan adanya ektrakurikuler prestasi keterampilan siswa kelas bilingual tambah meningkat. Dan nilai ini tergolong baik.
Tabel 46
Dengan penerapan kelas bilingual prestasi sekolah tambah meningkat
No. Alternatif jawaban N F %
12 a. Sangat baik
70 17 24,2
b. baik 51 72,8
c. kurang 2 2,8
Jumlah 70 70 100

Dari tabel diatas dapat menunjukkan bahwa dengan penerapan kelas bilingual prestasi sekolah tambah meningkata, siswa menyatakan sangat baik sebanyak 17 (24,2%), kadang-kadang 51 (72,8%) dan sedangkan yang mengatakan kurang baik 2 (2,8%). Dengan demikian dapat disimpulkan bawah penerapan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya dapat meningkatkan prestasi sekolah dengan baik. Dan nilai ini tergolong cukup.




Tabel 47
Dengan masuk kelas bilingual, kemampuan dalam mengoperasikan alat-alat teknologi tambah meningkat

No. Alternatif jawaban N F %
13 a. Ya
70 36 51,4
b. kadang-kadang 32 45,7
c. tidak 2 2,8
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa dengan masuk kelas bilingual, kemampuan siswa dalam mengoperasikan alat-alat teknologi tambah meningkat, siswa menyatakan ya sebanyak 36 (51,4), kadang-kadang 32 (45,7%) dan mengatakan tidak 2 (2,8%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan masuk kelas bilingual kemampuan siswa SMP Negeri 6 Surabaya dalam mengoperasikan alat-alat teknologi tambah meningkat. Dan nilai ini tergolong cukup.
Tabel 48
Dengan masuk kelas bilingual, kemahiran berhabasa Inggris tambah meningkat

No. Alternatif jawaban N F %
14 a. ya (85-100)
70 45 64,2
b. biasa (65-84) 23 32,8
c. tidak (55-64) 2 2,8
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa dengan masuk kelas bilingual, kemahiran berbahasa Inggris siswa tambah meningkat, siswa mengatakan ya sebanya 45 (64,2%), biasa 23 (32,8%) dan sedangkan yang mengatakan tidak 2 (2,8%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan masuk kelas bilingual kemahiran berbahasa Inggris siswa kelas bilingual SMP Negeri tambah meningkat. Dan nilai ini tergolong cukup.
Tabel 49
Selalu menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari
No. Alternatif jawaban N F %
15 a. ya
70 6 8,5
b. kadang-kadang 53 75,7
c. tidak 11 15,7
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa siswa selalu menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, siswa menyatakan ya sebanyak 6 (8,5%), kadang-kadang 53 (75,7%) dan sedangkan yang mengatakan tidak 11 (15,7%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya dalam kehidupan sehari-hari kadang-kadang menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Dan nilai ini tergolong baik.
Tabel 50
Mengontrol dan menilai diri sendiri setelah mengikuti KBM
No. Alternatif jawaban N F %
16 a. ya
70 21 30
b. kadang-kadang 44 62,8
c. tidak 5 7,1
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa siswa selalu mengontrol dan menilai diri sendiri setelah mengikuti kegiata belajar, siswa menyatakan ya 21 (30%), kadang-kadang 44 (62,8%) dan tidak 5 (7,1%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya kadang-kadang mengontrol dan menilai diri sendiri setelah mengikuti proses belajar mengajar. Dan nilai ini tergolong cukup.
Tabel 51
Nilai yang dicapai siswa dalam setiap ulangan harian
No. Alternatif jawaban N F %
17 a. 85-100
70 39 55,7
b. 65-84 30 42,8
c. 55-64 1 1,4
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa nilai yang dicapai siswa dalam setiap ulangan harian, menyatakan 85-100 berjumlah 39 (55,7%), 65-84 berjumlah 30 (42m8%) dan yang menyatakan 55-64 berjumlah 1 (1,4%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai yang dicapai oleh siswa kelas bilingual dalam setiap ulangan harian kebanyakan 85-100. Dan nilai ini tergolong cukup.
Tabel 52
Nilai yang dicapai siswa setiap Ulangan Tengah Semester
No. Alternatif jawaban N F %
18 a. 85-100
70 22 31,4
b. 65-84 47 67,1
c. 55-64 1 1,4
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa nilai yang dicapai siswa dalam setiap ulangan tengah semester, siswa menyatakan 85-100 berjumlah 22 (31,4%), 65-84 berjumlah 47 (67,1%) dan yang menyatakan 55-64 berjumlah 1 (1,4%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai yang dicapai oleh siswa kelas bilingual dalam setiap ujian tengah semester kebanyakan 65-84, dan nilai ini cukup baik. Dan nilai ini tergolong cukup.

Tabel 53
Nilai yang dicapai siswa setiap Ulangan Akhir Semester (UAS)
No. Alternatif jawaban N F %
19 a. 85-100
70 33 47,1
b. 65-84 37 52,8
c. 55-64 0 0
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel tersebut dapat menunjukkan bahwa nilai yang dicapai siswa dalam setiap ulangan akhir semester, siswa menyatakan 85-100 berjumlah 33 (47,1%), 65-84 berjumlah 37 (52,8%) dan yang menyatakan 55-64 tidak ada. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai yang dicapai oleh siswa kelas bilingual dalam setiap ulangan akhir semester kebanyakan 65-84. Dan nilai ini tergolong cukup.
Tabel 54
Nilai rata-rata yang dicapai siswa dalam raport
No. Alternatif jawaban N F %
20 a. 85-100
70 37 52,8
b. 65-84 33 47,1
c. 55-64 0 0
Jumlah 70 70 100

Dari hasil tabel diatas dapat menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang dicapai siswa dalam raport, siswa menyatakan 85-100 berjumlah 37 (52,8%), 65-84 berjumlah 33 (47,18%) dan sedangkan yang menyatakan 55-64 kosong. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai yang dicapai oleh siswa kelas bilingual dalam nilai rata-rata raport yang dicapai kebanyakan 85-100, nilai ini menunjukkan sangat memuaskan. Dan nilai ini tergolong cukup.
Dari beberapa dari hasil angket tersebut dapat rekap dari masing-masing item pertanyaan sebagai berikut:
a) Siswa merasa senang dan bangga setelah diterima atau masuk kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya dan nilai tergolong baik karena berada antara 76%-100%.
b) Siswa tambah semangat belajar setelah masuk kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya atau dibilang cukup karena berada antara 56% - 75%.
c) Keaktifannya Siswa kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya dalam mengikuti proses belajar mengajar tergolong cukup.
d) Siswa kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya bertanya ketika tidak mengerti penjelasan dari guru dan ini tergolong baik.
e) Kegiatan atau aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar di kontrol dan dinilai oleh guru, dan nilai ini tergolong cukup.
f) Penataan ruangan yang di kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya dapat memberikan leluasa dan kesengan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, dan nilai ini tergolong cukup.
g) Penggunaaan metode guru kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya dapat dapat memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan, dan nilai ini tergolong cukup.
h) Siswa kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti proses belajar mengajar, dan nilai ini tergolong baik.
i) Siswa dapat menjawab pertanyaan dari guru dengan baik, ketika guru memberikan pertanyaan.
j) Kegiatan-kegiatan ekstrakurikulur kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya dapat mendukung peningkatan mutu siswa, nilai ini tergolong baik.
k) Dengan adanya ektrakurikuler prestasi keterampilan siswa kelas bilingual tambah meningkat, nilai ini tergolong baik.
l) Penerapan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya dapat meningkatkan prestasi sekolah dengan baik, nilai ini tergolong cukup.
m) Setelah masuk kelas bilingual kemampuan siswa dalam mengoperasikan alat-alat teknologi tambah meningkat, nilai ini tergolong cukup.
n) Dengan masuk kelas bilingual kemahiran berbahasa Inggris siswa kelas bilingual SMP Negeri tambah meningkat, nilai ini tergolong cukup.
o) Siswa kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya dalam kehidupan sehari-hari kadang-kadang menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Dan nilai ini tergolong baik.
p) Siswa kelas bilingual SMP Negeri 6 Surabaya kadang-kadang mengontrol dan menilai diri sendiri setelah mengikuti proses belajar mengajar. Dan nilai ini tergolong cukup.
q) Nilai yang dicapai oleh siswa kelas bilingual dalam setiap ulangan harian kebanyakan 85-100. Dan nilai ini tergolong cukup.
r) Nilai yang dicapai oleh siswa kelas bilingual dalam setiap ujian tengah semester kebanyakan 65-84, dan nilai ini cukup baik. Dan nilai ini tergolong cukup.
s) Nilai yang dicapai oleh siswa kelas bilingual dalam setiap ulangan akhir semester kebanyakan 65-84. Dan nilai ini tergolong cukup.
t) Nilai nilai rata-rata yang dicapai siswa kelas bilingual dalam raport kebanyakan 85-100, nilai ini menunjukkan sangat memuaskan. Dan nilai ini tergolong cukup.
Berdasarkan dari kesimpulan-kesimpulan dari hasil angket yang sudah di masukkan kedalam rumus prosentase pada peritem pertanyaan tentang peningkatan mutu siswa diatas. Maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan mutu siswa kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya tergolong cukup, karena pada setiap item pertanyaan tentang peningkatan mutu siswa nilainya berada antara 56% - 75%.
3. Analisa Data Tentang Implikasi Pengelolaan Kelas Bilingual Terhadap Peningkatan Mutu Siswa di SMP Negeri 6 Surabaya
Untuk mengetahui ada tidaknya implikasi (dampak/pengaruh) pelaksanaan kelas bilingual terhadap peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya, penulis menggunakan rumus Product Moment. Adapun rumusnya sebagai berikut:
Keterangan:
rXY = koefisien antara variabel X dan Y yang dicari korelasinya
N = jumlah responden
∑XY = jumlah hasil perkalian antara skor X dan Y
∑X = jumlah seluruh skor X
∑Y = jumlah skor Y
∑X2 = jumlah hasil pengkalian sekor X dengan X
∑Y2 = jumlah hasil pengkalian skor Y dengan skor Y
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam mencari korelasi antara variabel X (pengelolaan kelas bilingual) dan variabel Y (peningkatan mutu siswa) adalah sebagai berikut:
1) Mencari Nilai Tabel Korelasi Product Moment
Tabel 55
Korelari Product Moment

NO X Y X2 Y2 XY
1 41 53 1681 2809 2173
2 46 47 2116 2209 2162
3 45 51 2025 2601 2295
4 45 49 2025 2401 2205
5 39 46 1521 2116 1794
6 44 48 1936 2304 2112
7 40 47 1600 2209 1880
8 42 42 1764 1764 1764
9 46 47 2116 2209 2162
10 36 42 1296 1764 1512
11 35 47 1225 2209 1645
12 37 46 1369 2116 1702
13 36 42 1296 1764 1512
14 43 50 1849 2500 2150
15 41 48 1681 2304 1968
16 40 44 1600 1936 1760
17 44 44 1936 1936 1936
18 41 49 1681 2401 2009
19 41 43 1681 1849 1763
20 41 44 1681 1936 1804
21 37 38 1369 1444 1406
22 41 47 1681 2209 1927
23 40 46 1600 2116 1840
24 40 46 1600 2116 1840
25 39 40 1521 1600 1560
26 39 47 1521 2209 1833
27 37 53 1369 2809 1961
28 41 53 1681 2809 2173
29 39 45 1521 2025 1755
30 41 52 1681 2704 2132
31 44 44 1936 1936 1936
32 49 45 2401 2025 2205
33 42 49 1764 2401 2058
34 42 55 1764 3025 2310
35 42 49 1764 2401 2058
36 41 48 1681 2304 1968
37 53 60 2809 3600 3180
38 39 45 1521 2025 1755
39 44 46 1936 2116 2024
40 49 49 2401 2401 2401
41 48 47 2304 2209 2256
42 40 48 1600 2304 1920
43 42 50 1764 2500 2100
44 44 50 1936 2500 2200
45 40 41 1600 1681 1640
46 43 46 1849 2116 1978
47 41 47 1681 2209 1927
48 41 45 1681 2025 1845
49 40 54 1600 2916 2160
50 46 53 2116 2809 2438
51 39 43 1521 1849 1677
52 40 46 1600 2116 1840
53 39 50 1521 2500 1950
54 39 40 1521 1600 1560
55 41 43 1681 1849 1763
56 40 40 1600 1600 1600
57 51 55 2601 3025 2805
58 50 49 2500 2401 2450
59 60 60 3600 3600 3600
60 60 60 3600 3600 3600
61 40 45 1600 2025 1800
62 58 60 3364 3600 3480
63 47 49 2209 2401 2303
64 38 40 1444 1600 1520
65 40 43 1600 1849 1720
66 38 40 1444 1600 1520
67 45 50 2025 2500 2250
68 50 55 2500 3025 2750
69 50 55 2500 3025 2750
70 50 60 2500 3600 3000
Jumlah ∑X=3002 ∑Y=3350 ∑X2=130662 ∑Y2=162246 ∑XY=145032

Dari tabel korelasi product moment diatas dapat diketahui sebagai berikut:
a. Jumlah N = 70
b. Jumlah X adalah 3002
c. Jumlah Y = 3350
d. Jumlah X2 = 130662
e. Jumlah Y2 = 162246
f. Jumlah XY = 145032



2) Memasukkan Ke Rumus Product Moment
Setelah diketahui hasil dari tabel korelasi product moment diatas, maka langkah selanjutnya memasukkan ke dalam rumus product moment sebagai berikut:


3) Menguji Hipotesa
Setelah nilai rXY diketahui yaitu 0,71, maka langkah selanjutnya adalah menguji hipotesa. Apakah ha (hipotesa kerja) di terima sedangkan hipotesa ho (nihil ditolak), dan begitu juga sebaliknya apakah ho (hipotesa nihil) diterima sedangkan hipotesa ha (kerja ditolak).
Untuk mengetahui itu, maka harus dikonsultasikan pada tabel nilai “r” product moment. Apabila hasil perhitungan dari rXY lebih besar daripada harga yang tertera dalam tabel nilai “r”, maka dapat dinyatakan bahwa hipotesa kerja di terima sedangkan hipotesa nihil di tolak dan begitu juga sebaliknya.
Dari tabel nilai “r” product moment dengan n = 71, diketahui bahwa pada taraf signifikan 5% adalah 0,235, sedangkan pada taraf signifikan 1% adalah 0,306.
Dari hasil konsultasi tersebut diketahui bahwasanya rXY = 0,71 lebih besar daripada nilai tabel “r” product moment baik pada taraf signifikan 5% = 0,235 maupun 1% = 0,306.
Jadi kesimpulannya yang dapat penulis tarik adalah hipotesis kerja (ha) dapat diterima dan hipotesis nihil (ho) di tolak. Sehingga yang berlaku adalah ada Implikasi (dampak/pengaruh) yang signifikan adanya pengelolaan kelas bilingual tarhadap peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya.
4) Sejauh Mana Implikasi (Dampak/Pengaruh)
Sedangkan untuk mengetahui sejauh mana Implikasi pengelolaan kelas bilingual terhadap peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya dapat di interpretasikan pada tabel “r” product moment di bawah ini sebagai berikut:





Tabel 56
Interpretasi Nilai “r” Product Moment

Besarnya “r’ Product Moment
(rXY) Interpretasi
0,00 – 0,20 Antara variable X dan Y memang terdapat korelasi akan tetapi korelasi itu sangat lemah sehingga korelasi itu diabaikan (dianggap tidak ada korelasi antara variabel X dan Y)
0,20 – 0,40 Antara variabel Y dan X terdapat korelasi yang lemah atau rendah
0,40 – 0,70 Antara variabel X dan Y terdapat korelasi yang sedang atau cukupan
0,70 – 0,90 Antara variabel X dan Y terdapat korelasi yang kuat atau tinggi
0,90 – 1,00 Antara variabel X dan Y terdapat korelasi yang sangat kuat atau sangat tinggi

Maka dapat diketahui hasil yang di peroleh adalah 0,706 dan pada tabel interpretasi barada pada nilai r = 0,70 – 0,90 menunjukkan bahwa antara variabel X dan Y terdapat implikasi yang kuat atau tinggi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas bilingual di SMP Negeri 6 Surabaya mempunyai dampak/pengaruh positif yang sangat kuat atau tinggi terhadap peningkatan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya.
6) Menguji dengan rumus regresi

Pengujian dengan rumus regresi ini digunakan untuk mengetahui kedua varibel X (pengelolaan kelas bilingual) dan variabel Y (peningkatan mutu siswa) bagaimana persamaan/hubungan kausal/sebab akibat/fungsional antar variabel tersebut..
Rumus persamaan regresi linier adalah y = a + bx
Untuk melihat bentuk korelasi antar variabel dengan persamaan tersebut maka nila a dan b harus di tentukan terlebih dahulu. Untuk memperoleh nilai a dapat digunakan rumus:



7472 = 17.356

Sedangkan nilai b dapat dihitung dengan rumus:


20176 = 0,711
Jadi persamaan regresi linier sederhananya adalah
Y= 17.356 + 0.711X
Dengan demikian dapat di artikan persamaan di atas adalah sebagai berikut:
- Konstanta (tetap) sebesar 17.356.
- Arah hubungannya.
Dari persamaan terlihat tanda “+” yang menggambarkan hubungan yang positif. Ini berarti pengelolaan kelas bilingual dapat meningkatkan mutu siswa di SMP Negeri 6 Surabaya.
- Koefisien regresinya 0.711
Dengan adanya pengolaan kelas bilingual, mutu siswa SMP Negeri 6 Surabaya akan meningkat sebesar 0.711 atau jika pengelolaan kelas bilingual tambah baik maka peningkatan mutu siswa juga akan tambah baik yaitu sebesar 0,711%.



























DAFTAR PUSTAKA



Arikunto, Suharsimi, 1996, Pengelolaan Kelas dan Siswa, Jakarta: Raja Grafindo

------------------------, 2002, Prosedur Penelitian, Sebuah Pendekatan Praktik, Yogyakarta: Rineka Cipta.

------------------------, 1993, Manajemen Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, Saifuddin, 1998, Metode Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Amirman Yousda, Ine I & Arifin Zainal, 1993, Penelitian dan Statistik Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.

Andi, Ayu N. Sekolah Bilingual Ideal (Juli 07, 2007). http://www.wordpress.com. Sekolah-bilingual-ideal/

Ahmadi Abu, Widodo Supriono, 1991, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Comariah, Aan Cepi Triatna, 2005, Visionary Leadership, Menuju Sekolah Efektfi, Jakarta: PT. Balai Pustaka.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2002, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta Pustaka.

Hadi, Sutrisno, 1987, Metoddologi Researh 2, Yogyakarta: Andi Offiset.

Hadi, Amirul, 1998, Metode Penelitian, Bandung: Pustaka Setia

Hadiyanto, 1997, Mencari Desentralisasi Manajemen Pendidikan di Indoensia, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Idris, “Sekolah Berstandar Internasional Dalam Perspektif Pendidikan Global” Disampaikan Pada Makalah Seminar (Mei 29 , 2008).

Liswar, Susanti, Efektivitas Bilingualisasi di Sekolah (Mei 05, 2008). http://www. Pontinak.pos.com./efektivitas-bilingualisasi-disekolah.

M. Dahlan Al Barry, Pius A Partanto, 1994, Kamus Ilmiah, Surabaya: Arkola

Marzuki, 1997, Metodologi Riset, Yogyakarta: Fakultas Ekonomi UI.
Mulyasa, 2007, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nawawi, Hadari, 1989, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas, Jakarta: Haji Masgung.

Sallis, Edward, 2007, Total Quality Managemen ID Education, Yogyakarta: IR Cisod.

Syaodah Sukmadinata, Nana, Et. Al., 2006, Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Manengah, Bandung: PT. Rafika Aditama

Slameto, 2003, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: PT. Rineka CIpta.

Syah, Muhibbin, 2004, Psikologi Belajar, Jakarta: Raja Grafindo Pustaka.

Suryosubroto, 2004, Manajemen Pendidikan di Sekolah, Jakarta: Pt. Rineka Cipta.

Sudirman, dkk, 1991, Ilmu Pendidikan, Bandung: PT. Rineka Cipta.

Sukesih, Noneng, Persiapan Pembelajaran matematikan dan IPA Dalam bahasa Inggris (Januari 08,2008). http://www.blogger.com/profil/111709974286 11444155

Tilaar, H. A. R. 1999, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21, Jakarta: Indonesia.

Tim Penyusun, 2006, Sebagai Dasar dan Pedoman Pelaksanaan Kelas Bilingual, Jogyakarta, Program Unggulan atau Tim Penyusun, Sebagai Dasar dan Pedoman Pelaksanaan Kelas Bilingual (Program Unggulan Kelas Bilingual, 2006), http://www.smpn1bantul.net/profil/visi-dan-misi/program-unggulan/ konsep-pembelajaran-bilingual/

Poerwordamin to, WJS., 1982, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.

Posted, Konsep Pembelajaran Matematika dan IPA Dalam Bahasa Inggris (Juni 06, 2008). Smpn1doloo.wordpress.com/2008/06/06/konsep-pembelajaran-matemati ka-dan ipa/70k-

Peraturan Pemerintah RI, Nomor 19 Tahun 2005, Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Cemerlang, 2005.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2006, Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Purwanto, Ngalim, 2006, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajara, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Umaedi, 1999, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Sebuah Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Sekolah Untu Peningkatan Mutu, Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direkator Pendidikan Menengah Umum.

Usman Uzer, Moh, 1993, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandurng: PT. Remaja Rosdakarya.

Wijaya, Cece, 1994, Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Titik Sudarti, Guru Matematika SMP Negeri 6 Surabaya, Hasil Wawancara (02, 06, 2008)

Wahyu Kasih Suganda, Eka, 1999, Pendidikan Tinggi Era Indonesia Baru, Jakarta: Grasindo.

1 komentar: